HIMMPAS IPB -Go Green- *coming soon

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kegiatan Dana dan Usaha HIMMPAS IPB

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kajian Rabu-Pagi

 

---------------------------------------
Bersama: Ust. Prof. Didin Hafiduddin
Ust. E. Syamsudin
dan Ust. Romli Suja'i
This is...







so...don't ever miss it..
our mind breakfast..^^


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bagaimana memiliki kata-kata yang berkah


by Himmpas Ipb on Friday, July 16, 2010 at 6:50am

Kata-kata menempati prosentasi terkecil (dibawah 15%) dalam instrumen komunikasi. Terkecil kedua adalah dengan suara, lalu yang terbesar dari komunikasi kita adalah bahasa tubuh (lebih 50%). Ungkapan ini baru saya dengar dari Mas Prie GS, budayawan asal Semarang yang menjadi narasumber sebuah acara talkshow MOTIVATalk yang disiarkan di Tri Jaya TV pukul 21.00-22.000.

Saya mencoba merenungi lebih jauh makna ungkapan Mas Prie yang menurutnya berdasarkan hasil riset. Saya berusaha menemukan sebuah hikmah tentang bagaimana membuat kata-kata itu bisa membawa kebaikan. Kita yakin, meski porsinya sedikit, kata-kata tetap dapat merubah dunia menjadi lebih baik atau sebaliknya menciptakan fitnah dahsyat dalam kehidupan masyarakat

Pengaruh kata-kata terhadap diri seseorang ternyata bukan dari isi kata-kata semata. Meskipun kata-kata cantik tak akan berubah keindahannya walau dikatakan oleh siapapun. Kalam ilahi takkan hilang hikmah dan maknanya meski dikatakan oleh orang yang berkelakuan buruk. Namun bobot pengaruh kata-kata indah terhadap seseorang sangat ditentukan oleh niat baik dan kebersihan hati yang mengatakannya.

Seringkali kita menemukan orang-orang yang berakhlak baik kata-katanya sangat kita resapi dan membawa pengaruh baik pada kita meski tak ada nilai seni di dalamnya. Ia hanya punya ksa kata sederhana. Ia tak punya banyak pilihan kata. Ia pun tidak jaim atau berpuara-pura berwibawa. Bahkan terkadang intonasi dan bahasa tubuhnya kurang tepat. Keterbatasan kata, suara dan bahasa tubuh orang berhati bersih tak menghalangi kebaikan masuk ke dalam jiwa orang lain.

Sisi lain, kita sering menyaksikan kata-kata indah yang meluncur dari seseorang namun kita malah mencibir dan mengernyitkan dahi keheranan. Bukan karena nilai seni dari kata-kata itu yang sangat tinggi, namun karena yang melontarkannya punya ”setting” yang berbeda dari makna kata-kata indah itu. Saat seseorang menganjurkan hidup bersahaja dan dermawan dengan menitir keindahan kalam ilahi, ia justru menunjukkan kemewahan cara berpakaian dan bersikap. Tatkala ia mengajak generasi muda berkata ”tidak” pada narkoba, justru ia menjadi bagian dari rantai jaringan pengedar barang haram itu. Jangan salahkan pendengar bila kutipan kata-kata indah tak punya pengaruh untuk merubah apapun karena niat dan perbuatan yang tak selaras dengan tujuan kata-katanya.

Keberkahan kata-kata akan makin meningkat bobotnya bila dibingkai dengan pengetahuan seni merangkai dan menyampaikan kata-kata. Orang-orang dengan seni perilaku yang menawan mempunyai potensi keberkahan yang tinggi dalam setiap kata-katanya. Seni berkelakuan yang indah dipadu dengan seni kata yang indah dan pegetahuan yang dalam akan melahirkan kata-kata bernilai keberkahan tinggi.

Bagaimana memiliki kata-kata yang indah. Caranya banyak membaca dan mendengar orang-orang yang piwai dalam menebar kata-kata indah dari karya dan orasinya. Menulis bisa mengasah kemampuan merangkai kata dan mengelola kata-kat secara teratur dan terlukis lebih elok.
Bagaimana memiliki niat dan jiwa yang bersih. Itu adalah tugas kita yang ingin masuk surga tentunya!

”Karena sedikitnya prosentasi kata-kata dalam komunikasi kita maka berhati-hatilah dan dan berilah bobot. Namun hati-hati tidak berarti harus menghalangai ekspresi terbaik muncul.” Demikian ungkapan Mas Prie yang sangat saya dalami.

” Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Ash Shaff/61:2-3)

Achmad Siddik Thoha
siddikthoha@yahoo.com
Kota Hujan, 12 Juli 2010
* terinspirasi dari tayangan MotivaTalk, Trijaya TV

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Karena Kita Takkan Henti Belajar


Oleh Achmad Siddik Thoha

Saat kerja keras kita tidak dihargai
Maka saat itu kita sedang belajar tentang 'ketulusan'
saat usaha kita dinilai tidak penting
maka saat itu kita sedang belajar 'keikhlasan'
saat hati kita terluka sangat dalam
maka saat itu kita sedang belajar tentang 'memaafkan'
ketika kita harus lelah dan kecewa
maka saat itu kita sedang belajar 'kesungguhan'
saat kita merasa sepi dan sendiri
maka saat itu kita sedang belajar tentang 'ketangguhan'
ketika kita harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu ditanggung
maka saat itu kita sedang belajar tentang 'kemurahan hati'
tetap semangat
tetap tersenyum
tetap belajar
karena kita sedang menimba ilmu di 'universtas kehidupan'
***

Puisi ini saya dengar pertama kali pada acara Konser Mini Anak Indonesia di Jakarta sebulan lalu. Saya sangat mencermati kata-kata yang sangat memikat magnet, laksana magnet yang membuat penonton menyimak dengan khusyu’. Setiba di rumah saya ‘search’ di google, ternyata sudah banyak di-publish di blog namun sayang tidak tercantum siapa pengarangnya (mohon info bagi sahabat yang tahu siapa pengarang puisi ini).

Sahabat, kehidupan ini merupakan sarana belajar tiada henti. Setiap saat kita harus bisa memetik pelajaran dari setiap peristiwa, fenomena alam dan ciptaan Tuhan yang terhampar luas di bumi ini. Tuhan memerintahkan manusia untuk senantiasa membaca apa yang ada dalam kehidupan. Tuhan pula yang menyuruh kita menuliskan pelajaran itu agar bermanfaat bagi sesama dan alam semesta.
Membaca dan menulis adaah aktifitas utama belajar. Membaca bukan sekedar mengeja huruf demi huruf hingga dipahami sebagai kalimat yang bermakna. Membaca harus dimaknai secara dalam yakni menghayati, merenungi dan mengambil hikmah dari kejadian, fenomena alam dan ciptaan-Nya di dunia ini. Membaca yang benar harus bisa menimbulkan kesadaran diri bahwa kita adalah manusia yang banyak kelemahan, kesalahan dan dosa serta tak berarti apapun dihadapan Yang Maha Kuasa. Membaca harus bisa sampai pada keyakinan bahwa kita diciptakan semata-mata untuk mengabdi pada-Nya.

Menulis adalah pasangan tak terpisahkan dari membaca. Tanpa menulis. hasil bacaan kita takkan banyak manfaatnya. Bila tidak menulis, kita akan kehilangan ingatan dan pemahaman yang utuh dari berbagai bacaan kita. Menulis akan mengikat, mengabadikan dan menyebarkan bacaan-bacaaan kita hingga ilmu bisa lestari dan dikembangkan.

Menulis bukan sekedar menggoreskan tinta pada kertas. Menulis dimaknai sebagai membuat goresan karya yang bermanfaat, mencatatkan amal kebaikan dan mengguratkan tinta emas kebajikan pada sejarah hidup kita. Setiap perbuatan kita senantiasa akan tercatat. Kualitas tulisan atau catatan kita sangat tergantung sejauh mana kita berhasil membaca dengan benar.

Sahabat, episiode belajar takkan mengenal kata akhir daam kehidupan kita. Bahkan dalam caci maki, ada hadiah ketulusan yang menghargai kita. Dalam kesepian ada piala ketangguhan yang menghibur kita. Dalam lelah dan kecewa selalu ada iring-iringan kesungguhan yang menyambut kita. Dalam luka dan pedih ada rombongan memaafkan yang menyoraki kita. Ketika kita harus mengeluarkan milik kita yang tak seharusnya, ‘doorprize’ berupa kemurahan hati membuat kita tetap tersenyum.

Tetap semangat, Sahabat, karena kita takkan henti mendapat ilmu yang berharga dari setiap penggalan kisah hidup kita.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Putus Asa : Menggali Kubur Sebelum Mati


Oleh Achmad Siddik Thoha

Sebuah pesawat jet terhempas keras di Pegunungan berhutan lebat di Alaska. Sang pilot tak bisa mengendalikan pesawat pribadi ini setelah terperangkap di udara yang penuh dengan rombongan burung yang sedang bermigrasi. Tabrakan tak terelakkan dan akhirnya hutan penuh dengan daun jarum menyambut kejatuhan mereka.

Beruntung, seluruh penghuni pesawat selamat. Tiga orang berasal dari rombongan orang kaya di Amerika Serikat akhirnya harus menghadapi kenyataan pahit. Mereka harus bertahan hidup di belantara yang dingin dan ganas.

Seorang miliarder yang cerdas bernama Charles, bersama fotografer ternama, Robert, serta Stephen, seorang kru pemotretan merangkap pilot akhirnya harus bersitegang satu sama lain. Mereka panik menghadapi situasi tak terduga ini.

Robert menawarkan pada rekannya agar mendaki puncak gunung. Dia berharap dapat menemukan bantuan di sana. Robert ternyata juga ingin mencari kesempatan untuk membunuh Charles dengan harapan dapat menikahi istrinya, yang diam-diam berselingkuh dengannya. Dia mempunyai niat sangat jahat pula pada Stephen, si kulit hitam yang menurutnya sebagai sampah tak berguna dengan keluhannya yang memuakkan. 
” Aku pasti akan mendapat bantuan dengan mendaki ke puncak gunung itu. Pasti ada menara komunikasi dan posko bantuan di sana. Helikopter akan melintas disana suatu saat. Kalau kalian mau ikut, berjalanlah dibelakangku. Kalau tidak, kalian akan jadi umpan beruang Alaska yang ganas disini.” Robert menawarkan solusi secara egois.

Stephen sebaliknya, dia tak mampu berpikir jernih dan terkulai lemas. Dia berpikir, sebentar lagi hidupnya akan berakhir karena tak ada lagi yang mampu melawan keganasan alam liar tanpa bekal. Dia terkena depresi berat.

”Apa yang bisa kita lakukan dalam kondisi tanpa bekal dan peralatan di rimba yang kita tak tahu posisi dimana kita. Kita akan matiiii...” Stephen berteriak histeris memperlihatkan keputusasaan yang sangat.
Lain halnya dengan Charles, dia nampak tenang. Sebagai pria terkaya di AS, ia banyak mengalami kondisi sulit dalam perjalaan suksesnya. Dia juga seorang kutu buku yang sering melahap buku-buku petualangan alam liar. Ia memilih untuk berpikir dulu sambil merancang strategi perjalanan menemukan bala bantuan. Lalu dengan tenang ia berkata, ”Di kota, kita adalah pria sukses dengan banyak pengagum. Seluruh orang melayani kita. Kita juga saling bersaing bahkan terkadang dengan cara yang tidak terhormat. Kini kita berada di alam liar dimana hanya Tuhan yang menggenggam nasib kita. Selebihnya adalah bagaimana kita bisa menyingkirkan ego dan bersama-sama mencari jalan keluar. Kita sama sekali tak tahu harus menuju kemana. Tapi kita akan pecahkan masalah ini bersama. Dengan bersama kita akan lebih kuat dan saling membantu”
”Kalian tahu, mengapa orang yang tersesat di hutan mati?” Tanya Charles dengan keras
”Karena mereka berputus-asa.” Kedua rekannya tertunduk mendengar pernyataan Charles yang mengandung filosofi.

Tiba-tiba terdengar suara raungan beruang Alaska yang sumbernya makin dekat. Mereka akhirnya lari terbirit-birit mencari tempat persembunyian. Beruang itu terus mengejar. Akibatnya, Stephen mengalami luka parah akibat terjatuh ke lubang. Pelarian menjadi semakin berat.

Charles mengeluarkan seluruh pengalaman dan pengetahuannya yang luas. Ia mulai mempraktekkan teknik survival suku Indian dari buku panduan yang terselip di saku bajunya. Dia juga mencoba merancang strategi perlawanan untuk membunuh Beruang ganas itu. Sementara Robert yang sejak awal punya niat membunuh Charles mulai goyah. Dia akhirnya bahu membahu mengikuti saran Charles untuk bisa bertahan hidup, merawat Stephen yang lukanya makin parah serta menghadapi secara jantan beruang yang akan menerkam mereka.

Singkat cerita, perjalanan survival mereka dijalani bersama. Namun Robert sering melakukan tipuan untuk membunuh Charles. Justru yang terjadi sebaliknya, Robert akhirnya mati terperosok ke dalam jebakan yang dibuatnya sendiri. Adapun Stephen, lukanya yang parah dan kondisi psikisnya yang lemah akhirnya tak dapat ditolong. Dia dikubur di tengah hutan.

Akhirnya Charles bertemu dengan seorang pemburu dari suku Indian Alaska. Melalui pertarungan sengit, akhirnya Beruang ganas itu bisa dibunuh oleh mereka. Dengan bekal daging yang lezat dan kulit beruang yang hangat, Charles bersama Si Pemburu suku Indian akhirnya menemukan bala bantuan. Charles akhirnya selamat dan bertemu dengan keluarganya.

Ini adalah salah satu ringkasan cerita yang diadaptasi dari Film The Edge yang dibintangi aktor Kawakan Anthony Hopkins (Charles) dan Alec Baldwin (Robert). Film ini ditayang di Indonesia Tahun 1997. Kisah petaualangan di hutan dan teknik survival yang diperagakan para aktor adalah bagian yang sangat menarik dari film ini. Namun ada satu hal yang sangat penting untuk diambil pelajaran dari film ini. Sebuah filosofi hidup dari orang-orang yang tersesat di hutan. Sebuah quotes yang sangat masyhur di kalangan petualang alam liar:
”Mengapa orang-orang yang tersesat di hutan mati? Karena mereka berputus-asa”

Ya...putus asa adalah sumber kegagalan dari semua upaya yang kita lakukan. Dengan berputus-asa, kita telah mematikan api harapan dalam diri kita. Harapan yang mati akan menghentikan nalar dan potensi. Akhirnya fisik kita pun tak berfungsi baik pada kondisi berputus asa. Putus asa adalah langkah awal menuju kematian. Ujungnya, putus asa adalah tindakan bunuh diri yang dimulai dari membunuh jiwa, pikiran dan selanjutnya fisik kita.

Orang yang berputus asa, tak lebih hanya bangkai berjalan di permukaan bumi. Dia telah melupakan Sang Pencipta yang Maha Pengasih. Dia juga mengacuhkan bahwa ada orang lain yang bisa membantunya. Sungguh berbahaya bila putus asa menjangkiti manusia. Dia mati secara makna meski hidup secara biologis. Orang yang melakukan bunuh diri, telah melengkapi keputusasaannya secara paripurna di dunia ini. Kelak di akhirat, tak ada kenangan kebaikan yang akan dihargai oleh Sang Pencipta.

Memang sudah menjadi salah satu sifat manusia, bila tertimpa masalah dia akan berputus asa. Keputusasaan melahirkan sifat egoisme yang tinggi dan kemudian berpikir bahwa tak ada gunanya meminta bantuan orang lain. Orang berputus asa kemudian hilang jiwa sosialnya. Bekerja sama dan meminta bantuan dihilangkan dalam kamus hidupnya. Akhirnya ia menggali kuburan sendiri bagi untuk mengakhiri hidupnya sebelum malaikat menjemput nyawanya.

Tuhan menciptakan makhluk di alam semesta beserta rejekinya. Tuhan Maha Adil dan tahu persis kebutuhan makhluk yang diciptakan-Nya. Ketika ada masalah, Tuhan menyuruh kita menggunakan segala potensi yang dimiliki sambil memohon bantuan pada-Nya dan juga pada sesama. Lihatlah hewan-hewan hidup dengan berusaha keras secara individu dan saling membantu untuk dapat bertahan hidup.

”Siapa bersungguh-sungguh, pasti akan sukses” (manjadda wajada)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Melubangi Kertas dengan Sabar

Oleh Achmad Siddik Thoha

Seorang guru mengajak muridnya ke sebuah lapangan luas. Waktu itu matahari sangat terik dan membuat udara sangat panas membakar. Sang guru lalu membagikan kaca pembesar dan kertas putih pada masing-masing muridnya.


”Coba kalian lubangi kertas itu dengan kaca pembesar” Perintah Sang guru pada murid-muridnya.


Segera para murid mengerti maksud gurunya. Para murid mengarahkan kaca pembesar ke kertas masing-masing. Semua murid tak sabar untuk melihat kertas itu berlubang oleh sinar matahari yang ditembuskan lewat kaca pembesar. Mereka menggerakkan kaca pembesar dari satu titik ke titik lainnya. Apa yang mereka lakukan tak membuahkan hasil. Kertas putih itu tetap utuh, tanpa lubang.


”Kumpulkam kertas-kertas kalian!” Ucapan Sang Guru menyentak para murid.


”Hmmm.....tak ada yang berhasil rupanya.”


Lalu Sang guru menyorotkan sinar dari kaca pembesar dan mendiamkannya tanpa bergerak di satu titik untuk beberapa saat. Sang guru sedang memfokuskan sinar matahari pada satu titik. Tak lama kemudian kertas mulai menghitam dan sebuah lubang muncul.


Para murid terkagum-kagum, namun sebenarnya mereka tidak paham dengan makna kejadian tadi. Kemudian Sang Guru mengatakan :


”Agar kita berhasil, kita perlu belajar memusatkan pada tugas yang kita;i sedang kerjakan, sampai tugas itu selesai. Kalian perlu sabar untuk menunggu hasilnya hingga semua dikerjakan dengan sempurna”


Para murid mengangguk. Mereka tak hanya mendapat pelajaran tentang cara membakar kertas dari cahaya matahari. Lebih dari itu mereka mendapat inspirasi hidup dari Sang Guru, kesabaran, disipilin dan fokus pada tugas.


Selamat menempuh perjuangan memperbaiki kesabaran, disipilin dan fokus pada tugas.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS