Tampilkan postingan dengan label Kajian Rabu-pagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Rabu-pagi. Tampilkan semua postingan

JURANG KESESATAN

(Kajian Al Qur’an surat Al-Qiyaamah ayat 31-40)

31.  Karena dia (dahulu) tidak mau membenarkan (Al-Qur’an dan Rasul) dan tidak mau melaksanakan shalat,
32.  tetapi justru dia mendustakan (rasul) dan berpaling (dari kebenaran),
33.  kemudian, dia pergi kepada keluarganya dengan sombong.
34.  celakalah kamu! Maka celakalah!
35.  sekali lagi, celakalah kamu (manusia)! Maka celakalah!
36.  apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja(tanpa pertanggungjawaban)?
37.  bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan (kedalam rahim),
38.  kemudian (mani itu) menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya,
39.  lalu Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan,
40.  bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa(pula) menghidupkan orang mati?

Dalam kehidupan di dunia terdapat dua kelompok manusia, yaitu manusia yang mendapat hidayah hingga istiqomah berpegang teguh pada aturan/syari’at Allah dan kelompok manusia yang berada dalam kesesatan yang nyata, manusia yang selalu membantah apa yang telah diperintahkan Allah padanya, manusia yang menjadi agen-agen iblis untuk kalangannya (manusia).
Walaupun hidayah dan kesesatan pada manusia merupakan kuasa Allah, namun setiap manusia belum mengetahuinya, dan ada beberapa penyebab manusia dapat berada jurang kesesatan, yaitu:

1. Sifat takabur.
Sifat sombong dimiliki oleh manusia dan selalu menganggap lebih tinggi dari yang lain. Sifat yang ditularkan oleh iblis dalam hati manusia seperti salah satunya yang termaktub dalam QS. Al-A’raf: 12-13
Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.". Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina."(TQS. Al-A’raf: 12-13).
Bahkan pada ayat lain di surat Al-A’raf (ayat 146), Allah berjanji akan menjauhkan nikmat yang terdapat pada ayat-ayatNya karena sifat takabur yang dimiliki seseorang.
Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. (TQS. Al-A’raf: 146).

2. Tidak mau mendengar dan berpikir
Manusia berada tetap dalam kesesatan ketika mereka tidak mau mendengar dan berpikir, dia selalu merasa dirinya berada dalam kebenaran dan selalu melakukan sesuatu benar pada jalan kebenaran. Sifat seperti ini sudah diwanti-wanti oleh Allah dalam surat al-mulk ayat 10 yang merupakan sifat para ahlunnaar, mereka merasa menyesal karena selama hidup di dunia mereka tidak mau mendengar dan berfikir akan setiap nikmat yang telah Allah berikan.
Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala." (TQS. Al-Mulk: 10).
Dan karena bebalnya mereka tidak mau mendengar dan berfikir mereka akhirnya menjadi manusia paling rugi seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Kahfi ayat 103-106.
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?". Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok. (QS. Al-Kahfi: 103-106).
Seharusnya setiap orang selalu belajar, meningkatkan kapasitas diri dalam ‘ilmunya sehingga mampu untuk mendengar dan berfikir akan setiap nikmat Allah, dan tidak selalu merasa benar pada setiap pendapatnya karena keterbatasan daya fikir manusia. Sifat terbuka dan berfikir dicontohkan salah satunya oleh imam syafi’i dan hanafi, beliau selalu belajar dan bertukar fikiran mengenai berbagai hukum fiqih, dan mereka saling menghormati pada setiap hukum yang mereka tetapkan karena semua disesuaikan dengan kondisi masyarakat disekitar tempat tinggal beliau.

3. Tidak mau membenarkan perintahNya padahal sudah mengetahui kebenarannya.
Sudah banyak manusia yang melakukan hal ini, mereka sebenarnya sudah mengetahui seperti apa hukumnya ketika melakukan perbuatan yang dilarang Allah, namun terkadang mereka seakan-akan (pura-pura) belum mengetahuinya, bahkan menjadi penentang hukum Allah yang seharusnya mereka melaksanakannya.

Wallahu’alam bishowab

Disusun berdasarkan taujih Ust. Prof. Didin Hafiduddin.  pada Kajian Rabuan
Tanggal 1Juni, pkl 07.00-07.45, di Ruang Aula Masjid Al Hurriyyah IPB

PSDM HIMMPAS IPB  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HURU HARA HARI KIAMAT


(Kajian Surat Al Qiyaamah : 1 – 15)

Surat Al Qiyaamah termasuk dalam golongan surat-surat Makiyyah dan diturunkan sesudah sesudah surat Al Qaari’ah. Dinamakan Al Qiyaamah (Hari Kiamat) diambil dari perkataan Al Qiyaamah yang terdapat pada awal surat ini. Sebagian besar surat ini menceritakan tentang kehebatan hari kiamat. Saat pahala dan siksaan yang dialami manusia tiada batasnya.

Bila kita kaitkan dengan surat sebelumnya yaitu surat Al Muddatstsir maka kita akan menemukan hubungan antara kedua surat ini. Pada Surat Al Muddatstsir digambarkan begitu banyak peringatan yang Allah berikan kepada orang-orang kafir. Bagaimanapun peringatan-peringatan itu diberikan tetapi tetap saja mereka tidak merasa gentar dan takut dengan hari akhir karena mereka tidak mengimaninya. Pada ayat-ayat awal surat Al Qiyaamah Allah SWT kembali menguatkan dalil-dalil tentang hari kiamat dan memastikan bahwa hari kiamat pasti akan datang. Ayat yang dijelaskan pada surat ini disebutkan lebih lengkap untuk menggambarkan betapa dahsyatnya huru-hara yang terjad pada saat itu.

Hubungan lain yang akan kita temukan dari kedua surat ini adalah berkaitan dengan Al Qur’an. Pada surat Al Muddatstsir mengungkapkan bagaimana orang-orang kafir mendustakan Al Qur’an dan menganggapnya sebagai perkataan manusia biasa. Pada surat Al Qiyaamah menegaskan salahnya pendapat orang-orang kafir tersebut. Allah SWT menjamin kemurnian dan terpeliharanya Al Qur’an. Al Quran terpelihara dengan baik dalam ingatan Rasulullah SAW dan mengajarkan bacaannya. Bahkan hingga saat ini kita bisa membuktikan bahwa Al Quran merupakan kitab yang bisa dengan mudah dihafal. Ia menjadi kitab yang paling banyak dihafal oleh seluruh penduduk dunia. Tidak jarang kita menemukan pada usia yang sangat belia seorang anak mampu menamatkan hafalan hingga 30 juz Al Qur’an. Ini mengindikasikan bahwa betapa Allah telah memelihara kemurnian Al Qur’an dengan sangat baik hingga saat ini.

Pada 15 ayat awal pada surat Al Qiyaamah, Allah memberikan gambaran yang sangat jelas tentang sifat-sifat hari kiamat, kehebatanya, dan keadaan manusia pada hari itu.
1. Aku bersumpah demi hari kiamat,
2. Dan aku bersumpah dengan jiwa yang Amat menyesali (dirinya sendiri).
3. Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
4. Bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.
5. Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.
6. Ia berkata: "Bilakah hari kiamat itu?"
7. Maka apabila mata terbelalak (ketakutan),
8. Dan apabila bulan telah hilang cahayaNya,
9. Dan matahari dan bulan dikumpulkan,
10. Pada hari itu manusia berkata: "Ke mana tempat berlari?"
11. Sekali-kali tidak! tidak ada tempat berlindung!
12. Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.
13. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.
14. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri
15. Meskipun Dia mengemukakan alasan-alasannya.

Pada ayat (1) dan (2) Allah menggunakan dua makhluk-Nya untuk bersumpah yaitu ‘hari kiamat’ dan ‘jiwa yang menyesal’. Ibnu Katsir dan beberapa mufasir lain menjelaskan bahwa apabila Allah menggunakan makhluk-Nya untuk bersumpah pada suatau ayat maka ini menunjukkan keistimewaan dari makhluk tersebut yang membutuhkan perhatian dan penelaahan yang mendalam guna mengambil hikmah dari ayat tersebut. Pada ayat (1) Allah bersumpah dengan ‘hari kiamat’. Pada ayat ini mempertegas bahwa hari kiamat adalah janji Allah yang pasti akan terjadi. Oleh karena itu setiap manusia dituntut untuk mempersiapkan diri menghadapinya dengan beriman dan beramal sholeh. Selanjutnya pada ayat (2) Allah bersumpah dengan ‘jiwa yang menyesal’. Pada dasarnya setiap manusia memiliki karakter jiwa yang selalu merasa menyesal. Penyesalan ini terjadi bukan hanya ketika manusia melakukan keburukan tetapi juga saat mengerjakan amal sholeh. Jiwa akan terus merasa menyesal tatkala ia mengerjakan amal sholeh karena sesungguhnya ia bisa berbuat amal sholeh yang lebih baik dan lebih baik lagi. Bisa dibayangkan betapa besar penyesalan jiwa ketika manusia berbuat keburukan. Jiwa yang selalu menyesal merupakan fitrah jiwa yang harus difahami oleh setiap manusia. Pada ayat ini Allah SWT ingin membawa manusia untuk menyelami karakter jiwanya.

Terdapat dua unsur yang paling dominan dalam diri manusia, yaitu jasad dan ruh. Jasad merupakan unsur yang dapat dengan mudah dilihat sehingga secara umum manusia biasanya mampu dengan cepat memperlakukannya dengan baik untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasadnya tersebut. Tetapi beda halnya dengan unsur ruh yang tidak terlihat. Manusia biasanya melupakan aspek pemenuhan kebutuhan ruhiyahnya. Sehingga terkadang kurang seimbang. Kedua unsur baik jasad maupun ruh harus diperlakukan dengan proporsional dan seimbang. Jalaluddin Ar Rumy mengibaratkan jasad dan ruh dengan seseorang yang menunggang kuda. Jasad diibaratkan dengan kuda tunggangan sedangkan ruh adalah orang yang menungganginya. Kuda harus cukup kuat agar bisa berlari kencang mengikuti kehendak penunggangnya. Sang penunggang kuda juga harus cukup kuat dan tangkas agar bisa mengendalikan kudanya dengan baik pada jalur yang benar sesuai tujuannya. Ketika sang penunggang kuda tiba untuk menghadap Rajanya maka kuda hanya akan ditambatkan di luar istana dan yang masuk menemui sang Raja tentu adalah penunggang tersebut. Begitu pula ketika manusia hendak mengahdap Rabb-nya maka yang akan menghadap adalah ruhnya sedang jasad akan berakhir di liang lahat.
Selanjutnya pada ayat (3) dan (4) Allah berfirman
.3. Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
4. Bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.

Pada kedua ayat ini Allah SWT ingin menyampaikan kepada manusia bahwa kelak manusia akan ada hari kebangkitan. Untuk menghilangkan keraguan yang ada, Allah menggambarkan bagaimana kuasa-Nya yang mampu mengumpulkan tulang belulang yang telah hancur dan menyusunnya kembali dengan sempurna sebagaimana ketika Allah menciptakan manusia.  Secara khusus ayat (4) bisa diartikan ‘mampu menyamakan setiap jari manusia’. Seperti yang sudah ditemukan di dunia sains bahwa jari manusia (sidik jari) merupakan penanda yang sangat khas dan tidak akan pernah sama. Hal ini diakui sebagai keajaiban penciptaan manusia. Bila Allah SWT mampu menciptakan sidik jari berbeda untuk setiap manusia maka untuk menciptakan sidik jari yang sama bukanlah hal yang sulit. Begitu pula untuk membangkitkan kembali apa yang telah hancur dan menyusunnya kembali menjadi sesuatu yang sempurna bukanlah yang mustahil bagi Allah SWT.

Pada Surat Al Qiyaamah ayat berikutnya, yaitu (5) dan (6) digambarkan bagaimana sikap manusia mengahadapi peringatan tersebut.
5. Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.
6. Ia berkata: "Bilakah hari kiamat itu?"
Pada ayat (5) Allah menggambarkan bagaimana manusia yang selalu memiliki sifat keburukan, yang tetap bertahan, tenang, dan bahkan bangga dengan kemaksiatan yang ia lakukan. Sifat seperti ini pada dasarnya merupakan potensi yang ada pada semua manusia yang harus diwaspadai.  Merasa tenang dengan kemaksiatan yang ia lakukan padahal ia sangat sadar dengan kemaksiatan itu. 

Untuk menggambarkan hal ini pada surat Al ‘Aadiyaat : 6 - 8 Allah SWT berfirman :
6. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya,
7. Dan Sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,
8. Dan Sesungguhnya Dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.
Ayat di atas menjelaskan karakter keingkaran yang dimiliki manusia walaupun mereka sadar sesadar-sadarnya terhadap maksiat yang mereka kerjakan. Pada ayat (8) Surat Al ’Aadiyaat di atas Allah menyampaikan bahwa sifat cinta yang berlebihan pada dunia merupakan penyebab semakin kuatnya karakter kingkaran pada Allah SWT.

Sikap manusia yang sangat tenang dan bangga dengan maksiat yang ia perbuat semakin menjadi-jadi bahkan pada surat Al Qiyaamah ayat (6) bagaimana batas keingkaran manusia yang seakan menatang Allah dengan menagih kapan terjadinya hari kiamat. Bila kita melihat kondisi masyarakat kita dewasa ini maka hal yang sudah dijelaskan Allah pada ayat ini akan banyak dapat kita temukan. Kemaksiatan bukan menjadi barang yang tabu bahkan sekarang kampanye akan kemaksiatan justru sangat kuat dilakukan. Kampanye tersebut sangat subur terutama melalui media massa baik cetak maupun elektronik. Kampanye seperti ini seakan menantang Allah SWT akan hadirnya hari kiamat sebagaimana gambaran dalam surat Al Qiyaamah ayat (6) di atas.

Tantangan orang-orang yang selalu berbuat ingkar pada Allah untuk mendatangkan hari kiamat terjawab pada ayat berikutnya :
7. Maka apabila mata terbelalak (ketakutan),
8. Dan apabila bulan telah hilang cahayaNya,
9. Dan matahari dan bulan dikumpulkan,
10. Pada hari itu manusia berkata: "Ke mana tempat berlari?"
11. Sekali-kali tidak! tidak ada tempat berlindung!

Pada rangkaian ayat ini Allah memberikan gambaran akan dahsyatnya hari kehancuran (yaumul faza’) yaitu dimana semua makhluk yang ada akan dihancurkan dan dimatikan tanpa terkecuali. Begitu hebatnya sehingga pada saat itu tidak ada yang peduli pada yang lain kecuali kepada keselamatannya sendiri.
Pada Surat Abasa : 33 – 36 Allah berfirman :
33. Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua),
34. Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,
35. Dari ibu dan bapaknya,
36. Dari istri dan anak-anaknya.

Senada dengan Surat Al Qiyaamah ayat (11), pada surat Al Ma’aarij : 11-15 Allah menegaskan bahwa tidak akan ada yang dapat menolong mereka ketika hari kiamat
11. Sedang mereka saling memandang. orang kafir ingin kalau Sekiranya Dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya,
12. Dan isterinya dan saudaranya,
13. Dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia).
14. Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.
15. Sekali-kali tidak dapat, Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak,

Setiap kita akan kembali pada Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang sudah kita lakukan selama hidup di dunia.
Dalam lanjutan surat Al Qiyaamah : 12-15 Allah berfirman
12. Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.
13. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.
14. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri
15. Meskipun Dia mengemukakan alasan-alasannya.

Setiap amal yang dilakukan di dunia akan dipertanggungjawabkan. Tak akan ada yang mampu ditutupi. Tidak akan ada alasan yang bisa membantu manusia karena justru seluruh anggota tubuh yang akan bersaksi atas apa yang telah dikerjakannya.  
Allah SWT berfirman dalam surat An Nur : 24

24. Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. 
Semua anggota tubuh akan menjadi saksi dalam mahkamah pengadilan Allah dengan sejujur-jujurnya dan tidak seorangpun bisa berbohong untuk menutupi keburukannya.

Wallahu’alam bishowab

Disusun berdasarkan taujih Ust. Asep Nurhalim, Lc.  pada Kajian Rabuan
Tanggal 11 Mei 2011, pkl 07.00-07.45, di Ruang Aula Masjid Al Hurriyyah IPB
PSDM HIMMPAS IPB    

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

GAMBARAN AHLI NERAKA SELAMA HIDUP DI DUNIA


Kajian Al Qur’an surat Al Muddatstsir:48-56

48. Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at.
49. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?,
50. Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut,
51. Lari daripada singa.
52. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka.
53. Sekali-kali tidak. sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat.
54. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya Al Quran itu adalah peringatan.
55. Maka Barangsiapa menghendaki, niscaya Dia mengambil pelajaran daripadanya (Al Quran).
56. Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Tuhan yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun.

Tidak dapat dipungkiri bahwa datangnya hari pembalasan  merupakan janji Allah yang pasti akan terjadi. Pada hari itu setiap manusia akan dihadapkan pada segala sesuatu yang ia kerjakan selama di dunia. Tak satupun aktivitas yang tidak akan mendapat balasan. Semuanya secara detail akan terpaparkan dengan jelas bukan hanya yang besar tapi juga yang sangat kecil. Tak ada yang samar dan tertutupi apalagi kuasa dari manusia untuk menyembunyikannya. Allah SWT berfirman dalam surat Al Zalzalah ayat 7-8:

7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.
8. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula
. 
Pada hari itu tidak akan ada yang mampu menolong manusia kecuali amal sholeh yang ia kerjakan. Bagi mereka yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah maka Rasulullah SAW akan memberikan syafaat untuk menambahkan kebaikan atas amal sholeh yang mereka kerjakan. “Dari Abu Hurairah r.a beliau menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi was sallam bersabda, “Setiap Nabi alaihis salam memiliki doa yang mustajab, maka setiap nabi telah menggunakan doa tersebut. Dan aku menyimpannya sebagai syafa’at bagi ummatku, kelak di hari kiamat. Maka, syafa’at tersebut Insya Allah akan didapati oleh setiap orang dari umatku yang wafat dalam keadaan tidak menyekutukan Allah ta’ala dengan suatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Syafaat tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang bertauhid dan ikhlas karena Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Wahai Rasulullah, siapa yang paling bahagia mendapatkan syafaatmu?” Beliau menjawab, “Orang yang mengatakan,’Laa ilaaha illallah’ dengan ikhlas dalam hatinya.”(H.R. Bukhari).

Pada ayat ke 48 pada surat Al Muddatstsir Allah menjelaskan kondisi para penghuni neraka yang tidak akan mendapat manfaat dari syafaat yang mereka harapkan. Allah secara tegas menyatakan
Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at.
Kaum musyrikin selalu beranggapan bahwa tuhan-tuhan yang mereka sembah akan mampu memberikan syafaat bagi mereka di sisi Allah. 

Hal ini digambarkan dalam Al Qur’an surah Yunus:18
18. Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada Kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?"Maha suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).

Ketergantungan orang-orang musyrik kepada tuhan-tuhan yang mereka sembah adalah ketergantungan batil yang tidak bermanfaat. Mereka beranggapan bahwa berhala yang disembah merupakan jalan untuk mencapai Allah SWT. Pada kenyataannya berhala-berhala yang mereka sembah bukanlah sesuatu yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan mereka sebaliknya hanya sesuatu yang sia-sia dan bahkan membuat mereka semakin jauh dari Allah. Itulah kebodohan mereka yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah, tetapi sebenarnya tidak lain hanya menjadikan mereka semakin jauh.

Pada lanjutan ayat berikutnya yaitu pada surat Al Muddatstsir ayat 49-51, Allah berfirman:
49. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?,
50. Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut,
51. Lari daripada singa.

Pada ayat ini secara khusus Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an berkomentar tentang gambaran keledai liar yang lari berhamburan ke segala penjuru lantaran sangat takut dengan seekor singa. Pemandangan seperti ini merupakan kondisi yang sangat lazim ditemukan dan cukup familiar bagi masyarakat pada zaman itu terutama bagi bangsa Arab. Betapa enggannya orang-orang kafir selama hidupnya untuk mendengarkan peringatan-peringatan dari Allah SWT hingga digambarkan laksana keledai yang lari ketakutan terhadap singa.

Senada dengan ayat di atas, Allah SWT juga berfirman dalam Surat An A’raaf:179
179. Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.

Pada ayat ini Allah menyerupakan para penghuni neraka semasa hidupnya seperi binatang ternak dan bahkan lebih rendah lagi. Yang cukup menarik bila kita hubungkan dengan Surat Al Muddatstsir ayat 50 adalah dipilihnya keledai liar (yang lazim juga menjadi binatang yang diternakan) untuk menunjukkan kondisi orang-orang kafir tersebut. Seperti yang kita ketahui bahwa keledai identik dengan binatang yang bodoh. Simbol keledai biasanya digunakan untuk menunjukkan kebodohan. Pada rangkaian ayat ini tentu Allah juga ingin menyampaikan kepada kita bahwa kondisi mereka yang terus enggan dan menghindar dari peringatan Allah adalah bentuk kebodohan luar biasa yang tidak pernah mereka sadari. 

Perilaku orang-orang kafir ini sangat bertolak belakang dengan orang-orang yang beriman yang selalu mengharapkan hidayah Allah SWT. Hidayah tentu tidak akan sampai ketika kita enggan dan menjauh dari sumber-sumbernya. Sebaliknya hidayah akan ditunjukkan kepada orang yang benar-benar bersungguh-sungguh (berjihad) untuk mendapatkannya. Allah SWT berfirman dalam surat Al Ankabut:69

69. Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Keengganan orang-orang kafir untuk beriman kepada agama Islam ternyata bukan semata-mata disebkan karena mereka belum memahami ajaran yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW tetapi disebabkan adanya hasad atau dengki pada hati mereka. Hal ini ditegaskan Allah pada lanjutan Surat Al Muddatstsir ayat yang ke-52:

Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa definisi hasad adalah merasa tidak suka dengan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Pada masa Rasulullah Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul maka permusuhan yang paling hebat pada dakwah beliau justru datang dari pembesar-pembesar Quraisy lantaran mereka bukan tidak mengerti apa yang disampaikan tetapi karena kedengkian yang menutupi hatinya sehingga tidak ada hidayah bagi mereka. Mereka tidak bisa menerima bahwa Muhammad merupakan utusan Allah dan kalaupun ada yang pantas menjadi nabi maka merekalah orangnya. Bahkan sebagian tokoh seperti Musailamah Al Kadzab berani memproklamirkan diri sebagai Nabi dan membuat gubahan ayat untuk menandingi Al Qur’an. Kedengkian seperti ini terus terpelihara hingga sekarang. Dalam hati selalu ada kebencian dan permusuhan sehingga selalu berusaha melancarkan serangan-serangan yang bertujuan menghancurkan Agama Islam.

Tabiat berikutnya dari penghuni neraka adalah mereka yang tidak takut terhadap negeri akhirat. Pada lanjutan Q.S. Al Muddatstsir Allah berfirman:
53. Sekali-kali tidak. sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat.
54. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya Al Quran itu adalah peringatan.
55. Maka Barangsiapa menghendaki, niscaya Dia mengambil pelajaran daripadanya (Al Quran).
56. Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Tuhan yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun.

Dalam Al Qur’an kita akan banyak menjumpai ayat-ayat yang berisi peringatan terutama siksaan Allah bagi mereka yang lalai dan ingkar pada-Nya. Adanya gambaran siksa akhirat diciptakan untuk menghadirkan rasa takut bagi manusia. Bukan hanya siksaan ketika di akhirat bahkan ketika kematianpun siksaan sudah sangat menyakitkan bagi mereka yang ingkar. Allah berfirman dalam surat Al An’aam:93
93. Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", Padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah." Alangkah dahsyatnya Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang Para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.

Dalam ayat lain seperti surat Al Hajj :19-22, Allah menggambarkan siksa neraka dengan siksaan yang luar biasa:
19. Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka.
20. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka).
21. Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi.
22. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (kepada mereka dikatakan), "Rasailah azab yang membakar ini" 

Bagi mereka yang terbuka hatinya tentu akan mampu mengambil pelajaran. Ayat-ayat seperti ini akan menghadirkan rasa takut yang luar biasa sehingga setiap tingkah laku yang ia lakukan akan selalu berhati-hati, selalu berusaha mentaati hukum Allah karena ia tidak ingin membuat Allah murka kepadanya. Sebaliknya bagi orang-orang yang enggan mengambil pelajaran dari Al Qur’an, ayat-ayat ini tidak akan berarti apa-apa. Kesombongan dalam dirinya telah menutupinya dari kebenaran ayat-ayat Allah. Sehingga tidak akan ada rasa takut dalam dirinya terhadap hari akhirat. Bila sudah seperti ini, di dunia ia hanya akan menuruti kehendak hawa nafsunya.Jauh dari tuntunan Allah SWT hingga kematian menjemputnya. Na’udzubillah mindzalik.

Wallau’alam Bishowab
Disusun oberdasarkan taujih Ust. Drs. E. Syamsudin  pada Kajian Rabuan Tanggal 4 Mei 2011, pkl 07.00-07.45, di Ruang Aula Masjid Al Hurriyyah IPB
PSDM HIMMPAS IPB

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MEMBANGUN ORIENTASI MASA DEPAN

Kajian Al Qur’an Surat Al Muddatstsir : 32-47

32. Sekali-kali tidak, demi bulan,
33. Dan malam ketika telah berlalu,
34. Dan subuh apabila mulai terang.
35. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang Amat besar,
36. Sebagai ancaman bagi manusia.
37. (yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur.
38. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya,
39. Kecuali golongan kanan,
40. Berada di dalam syurga, mereka tanya menanya,
41. Tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa,
42. "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?"
43. Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak Termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,
44. Dan Kami tidak (pula) memberi Makan orang miskin,
45. Dan adalah Kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya,
46. Dan adalah Kami mendustakan hari pembalasan,
47. Hingga datang kepada Kami kematian". 

Bila kita perhatikan kandungan isi Al Qur’an maka kita akan menemukan banyak ayat yang menjelaskan tentang hari akhir (yaumil akhir). Ayat-ayat tersebut banyak bercerita tentang kabar gembira bagi orang-orang beriman atas apa yang telah mereka kerjakan selama hidup di dunia dengan ganjaran berupa kenikmatan yang akan didapatkan di surga. Sebaliknya kita juga akan menemukan begitu banyak peringatan yang Allah berikan bagi orang-orang yang ingkar terhadap Allah SWT dengan ganjaran siksa yang pedih dan menyedihkan di neraka.

Banyaknya ayat yang berhubungan dengan yaumil akhir memberikan pengingatan bagi orang-orang yang beriman bahwa dalam menjalani kehidupan dituntut untuk hidup dengan bertanggung jawab. Kehidupan yang dijalani bukanlah hidup yang asal-asalan, tidak terkendali, dan tanpa tujuan yang jelas. Setiap tindakan yang dilakukan selama di dunia tentu akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak.

Rasulullah SAW dalam salah satu hadits menegaskan kepada kita bahwa minimal ada empat hal yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti. Dari Mu’adz bin Jabal r.a, Rasulullah SAW bersabda : Dua kaki seorang hamba tidak akan berpindah (dari tempatnya berpijak nanti pada hari kiamat) sehingga dia ditanya tentang empat perkara  : Tentang umurnya, kemana saja dia habiskan; tentang masa mudanya, dengan apa dia gunakan; tentang hartanya, dari mana dia mendapatkannya dan untuk apa dia belanjakan; dan tentang ilmunya, apa yg dia perbuat dengan ilmunya itu ( Hadis Riwayat At Thabrani dan Al Bazzar).

Usia tidak lain adalah waktu yang kita jalani dalam kehidupan. Setiap detik yang dijalani manusia akan diminta pertanggungjawabannya tentang kemana saja ia dihabiskan. Orang yang sudah memahami pentingnya usia yang diberikan Allah tak akan banyak membuang waktu yang ada dengan pekerjaan yang sia-sia dan melenakan. Sebaliknya ia akan menggunakan waktu secara bijak sehingga mampu melahirkan karya-karya produktif yang bernilai pahala di sisi Allah SWT.

Ada ungkapan yang menyatakan bahwa ‘akhir yang baik mesti diawali dengan permulaan yang baik’. Melahirkan orang-orang yang baik tentu bukan tanpa proses. Masa muda merupakan saat yang tepat karena pada masa inilah terjadi pembentukan karakter yang akan menentukan akan jadi apa orang tersebut nantinya. Dari hadits Rasulullah SAW di atas tersirat sebuah pesan akan pentingnya masa muda yang diisi dengan proses pemibinaan yang benar sesuai tuntutan Allah SWT sehingga masa muda tidak menjadi investasi yang buruk bagi masa depan. 

Tentang harta, pada hadits di atas tersimpan pesan yang tegas untuk menolak sistem ekonomi yang hanya mementingkan pemuasan kebutuhan manusia tanpa menghiraukan sumber dan cara membelanjakannya. Pemahaman akan hadits ini juga akan menafikkan kebanyakan sistem ekonomi konvensional yang hanya mengatur bagaimana orang mendapatkan hartanya sedangkan untuk masalah bagaimana mereka menghabiskan hartanya menjadi urusan masing-masing karena dianggap ia berhak sepenuhnya atas harta yang dimilikinya tersebut. Berbeda dengan sistem konvensional, ekonomi yang diajarkan islam mengatur tidak hanya bagaimana mendapatkan harta tapi juga bagaimana pemanfaatannya. Sehingga seorang muslim yang sudah memahami hal ini akan memiliki mind set bahwa ia bukan hanya memenuhi kebutuhannya di dunia tapi juga berinvestasi untuk akhirat dengan hartanya tersebut.

Tentang ilmu, kita tidak akan ditanya seberapa banyak ilmu yang kita miliki atau seberapa tinggi gelar pendidikan yang kita peroleh. Pertanyaan yang akan muncul adalah bagaimana kita memanfaatkan ilmu tersebut. Apa kemaslahatan yang kita hadirkan dengan ilmu yang kita miliki? Pertanyaan ini akan menghilangkan model orang yang hanya pintar untuk dirinya sendiri tetapi tidak bermanfaat bagi lingkungannya. Sepantasnya orang yang berilmu harus memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan yang tidak sehingga bingkai yang terbentuk bagi setiap penuntut ilmu adalah ‘ilmu untuk tanggung jawab’.

Selain tentang hidup yang bertanggung jawab, pelajaran lain yang dapat kita tarik dari banyaknya ayat yang bercerita tentang yaumil akhir adalah melatih orang-orang yang beriman berfikir bukan hanya untuk saat ini tetapi memikirkan untuk masa depan.

Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an surat A Hasyr : 18
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Pada ayat di atas Allah SWT menggunakan dua kata ‘taqwa’. Hal ini menunjukan adanya penekanan yang sangat penting terhadap kandungan ayat tersebut yaitu untuk memperhatikan apa yang telah kita lakukan bagi hari esok (akhirat). Kita diajak untuk hidup bukan hanya hari ini tetapi juga mempersiapkan hari esok untuk esok yang lebih jauh lagi yaitu akhirat.

Pada ayat lain misalnya, Allah meminta kita untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah setelah kita. Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an surat An Nisa : 9
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.

Allah SWT memerintahkan kepada kita agar mempersiapkan masa depan anak-anak kita terutama dengan memberikan dasar pemahaman yang benar terhadap Islam sebagai pondasi kehidupannya melalui proses pembinaan yang tepat. Tidak cukup hanya itu, kita juga diminta untuk mempersiapkan anak-anak kita agar mampu menghadapi kondisi kehidupannya di masa akan datang  seperti halnya yang diajarkan Rasulullah SAW untuk mendidik anak sesuai dengan zamannya. Orang tua diajak untuk tidak hanya mendidik anaknya berdasarkan kondisinya saat ini karena tentu pendidikan yang semacam itu tidak akan mampu menjawab tantangan masa depan.

Firman Allah dalam Al Qur’an surat Al Muddatstsir : 40-46 memberikan gambaran kepada kita tentang sebab dan akibat yang berkaitan antara dunia dan akhirat. Gambaran tersebut dapat kita jumpai melalui dialog antara penghuni surga dan neraka.

40. Berada di dalam syurga, mereka tanya menanya,
41. Tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa,
42. "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?"
43. Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak Termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,
44. Dan Kami tidak (pula) memberi Makan orang miskin,
45. Dan adalah Kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya,
46. Dan adalah Kami mendustakan hari pembalasan,
47. Hingga datang kepada Kami kematian".

Dunia harus difahami sebagai panggung amal (Daarul ‘amal) sedangkan akhirat merupakan tempat pembalasan (Daarul Jaza) dari apa yang telah dikerjakan selama di dunia. Dari dialog antara penghuni neraka dan surga pada ayat di atas terlihat jelas bahwa orang-orang yang mendapatkan balasan neraka adalah orang-orang yang mengabaikan amal-amal sholeh selama di dunia dan tidak meyakini bahwa kelak akan ada pembalasan terhadap apa yang mereka kerjakan. Dengan kata lain mereka adalah orang-orang yang tidak meliki orientasi akhirat. Kita harus menyadari bahwa dunia hanyalah persinggahan. Kematian bukanlah akhir tetapi awal dari kehidupan akhirat.

Bila kita sedikit mudur ke Q.S. Al Muddatstsir : 32-34 maka kita akan menemukan bahwa Allah bersumpah dengan alam ciptaan-Nya.
32. Sekali-kali tidak, demi bulan,
33. Dan malam ketika telah berlalu,
34. Dan subuh apabila mulai terang.

Kita juga bisa menemukan model ayat seperti ini pada surat lain dimana Allah SWT juga bersumpah dengan ciptaan-Nya. Adanya ayat seperti ini memberikan penekanan kepada kita untuk mempelajari ciptaan Allah SWT dalam rangka meninkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya.
Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran : 190-191
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.

Orang-orang yang beriman akan mampu menyelami pemaknaan terhadap fenomena-fenomena yang ada di sekelilingnya. Ia tidak akan berhenti pada penjelasan-penjelasan sains dan logika semata tetapi jauh pada itu ia mampu menemukan Allah sebagai tujuan pencariannya.

Dengan orientasi hidup yang jelas, orang-orang beriman akan mampu menyikapi segala permasalahan dengan pemahaman yang utuh dan terlepas dari sekulerisme yang memisahkan dunia dan akhiratnya. Ia akan terdorong untuk mengunakan dunia untuk mencapai tujuan akhirat. Insya Allah orang-orang inilah yang akan mampu mencapai tujuan akhirnya dengan selamat.

Wallau’alam Bishowab
Disusun oleh Jati Sumarto Putro
Berdasarkan taujih Ust. Prof. Dr. Didin Hafiduddin pada kajian Rabuan
Tanggal 27 April 2011, pkl 07.00-07.45, di Ruang Aula Masjid Al Hurriyyah
PSDM HIMMPAS IPB 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS