Belajarlah Dari Matahari

Oleh: DR. Amir Faishol Fath

Anakku, lihatlah matahari itu
Ia tidak pernah berhenti memberikan cahaya
Sekalipun orang-orang tidak mau memujinya
Tidak pernah memberikan penghargaan kepadanya
Ia tetap memberikan pencahayaan
Bayangkan, apa yang akan dialami bumi
Bila matahari tidak mau bercahaya

Anakku, janganlah kau putus asa
Karena besok pagi matahari itu akan terbit kembali
Songsonglah masa depan dengan semangat membara
Tanpa kenal lelah dan pudar
Karena dengannya kau akan menjadi mulia

Anakku, kau lihat matahari itu sangat tinggi
Tetapi ia masih mau membantu bumi
Karenanya, bila engkau kelak sedang di atas
Janganlah lupa kepada yang di bawah
Sebab kau akan semakin tinggi ketika kau selalu merendah

Anakku, matahari itu tidak lupa diri
Sekalipun ia sibuk memberikan cahaya kepada semesta
Ia juga memberikan cahaya pada dirinya
Karenanya janganlah kau menjadi seperti lilin
Yang rela membakar dirinya untuk pencahayaan
Tetapi jadilah seperti matahari
Yang memberikan cahaya bagi orang lain
Juga memberikan cahaya bagi dirinya sendiri.

Washington DC, 2010

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Melihat Orang Lain dengan Kaca Mata Mereka

Oleh Achmad Siddik Thoha

Sungguh lucu….terkadang atau seringkali saya atau kita melakukan hal berikut:

Jika orang lain membutuhkan waktu lama untuk mengerjakan sesuatu, kita menyebutnya lamban. 
Namun, jika kita sendiri yang membutuhkan waktu lama untuk melakukan sesuatu, maka kita akan mengatakan:
“Aku ini orang yang teliti dan detil dalam mengerjakan sesuatu”.
Jika orang lain tidak melakukan sesuatu, kita menganggapnya pemalas. Namun jika kita yang tidak melakukannya, maka kita akan mengatakan:
“ Aku orang yang sangat sibuk, mana sempat?”
Jika orang lain mengerjakan sesuatu tanpa disuruh, dia dikatakan telah melampaui batas. Tetapi, jika kita terus saja mengerjakan sesuatu tanpa disuruh maka kita akan mengatakan  
“Aku ini orang yang penuh inisiatif dan kreatif.”
Jika orang lain mengungkapkan pendapatnya dengan tanpa basa basi, dia disebut keras kepala. Tetapi, jika kita yang menyuarakan pendapat kita dengan keras, maka kita akan mengatakan:
“Aku harus tegas dengan sebuah prinsip”.
Jika orang lain tidak sengaja mengabaikan etika, dia disebut kurang ajar. Namun bila kita yang melakukannya…… maka kita akan mengatakan:
“Tak perlu lah dibesar-besarkan.”

Sahabat…Kita tidak akan pernah sepenuhnya memahami orang lain sebelum kita melepaskan kaca mata kita dan melihat dunia melalui kaca mata orang tersebut.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

DIMANA AKU BERADA

*Sebuah Renungan untuk Generasi Akhir Zaman

oleh: Jati S.P

"Aku khawatir terhadap suatu masa yang roda kehidupannya dapat menggilas keimanan.
Keyakinan hanya tinggal pemikiran yang tak berbekas dalam perbuatan.
Banyak orang baik tapi tak berakal, ada orang berakal tapi tak beriman.
Ada lidah fasih tapi berhati lalai, ada yang khusuk namun sibuk dalam kesendirian.
Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis.
Ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi.
Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat dan ada yang banyak menangis karena kufur nikmat.
Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat dan ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut.
Ada yang berlisan bijak tapi tak dapat memberi teladan dan ada pelacur yang tampil jadi figur.
Ada orang punya ilmu tapi tak faham, ada yang faham tapi tak menjalankan.
Ada yang pintar tapi membodohi, ada yang bodoh tapi tak tau diri.
Ada orang beragama tapi tak berakhlak dan ada yang berakhlak tapi tak bertuhan.
Lalu diantara semua itu..dimana aku berada ?"
(Ali bin Abi Thalib R.A)

*sms dari seorang sahabat

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Setitik Hitam Tak Merusak Luapan Kebaikan

Oleh Achmad Siddik Thoha

Pagi itu, Andi sangat terkejut dengan berita yang dibawa temannya, Karim. Karim menyebutkan bahwa guru mengaji mereka, Pak Amir, ditangkap polisi. Konon Pak Amir  dalam keadaan emosi memukul Jaja, teman ngaji Andi yang terkenal selalu memancing keributan. Pak Amir pun sebenarnya sudah meminta maaf pada keluarga Jaja. Sayangnya keluarga Jaja tak terima perlakuan Pak Amir dan membawa urusan tersebut ke polisi.

Andi sungguh tak menyangka, Pak Amir bisa marah dan memukul orang. Dia mengenal Pak Amir sebagai sosok yang sabar dan penyantun pada murid-muridnya. Bahkan, jangankan memukul, Pak Amir tak pernah terlihat emosi meskipun anak-anak pengajian sangat berisik dan menganggunya.
Sejak itu, masyarakat kampung seolah menjatuhkan vonis yang tidak adil pada Pak Amir dan keluarganya. Mereka menuduh Pak Amir sebagai orang yang suka menganiaya anak-anak. Bahkan dicari-cari kesalahan yang lain untuk membunuh karakter seorang yang sejak lama telah berjasa membina generasi muda di kampungnya.

Keluarga Pak Amir sangat terpukul. Rasanya orang tak lagi menghargai jasa-jasa Pak Amir yang telah lama ditanam. Kesalahan sedikit yang diakui Pak Amir dilakukan secara tidak sengaja, seolah telah menghabiskan banyak kebaikan yang selama ini beliau luapkan di masyarakat.

Andi termenung di depan jendela. Anak usia empat belas tahun ini, memandang dari kejauhan rumah Pak Amir yang selalu terang terasnya. Sejak Pak Amir berurusan dengan Polisi, Langgar (tempat shalat dan mengaji) di kampungnya menjadi sepi. Anak-anak kemudian larut dalam aktivitas yang tidak bermanfaat mengisi waktu usai maghrib. Banyak anak muda kemudian nongkrong di gang, bermain game online, bermain internet atau hanya sekedar ngobrol ‘ngalor-ngidul’ di beranda langgar. Tak ada lagi suara merdu Pak Amir menuntun anak-anak memperdalam kita suci. Tak terdengar lagi suara serempak menghapal pelajaran agama.

“Nak, kau tidak mengaji?” Telapak tangan lembut menyentuh pundak Andi. Tangan Ayahnya telah menyadarkan lamunannya.
“Ayah, haruskah kita membenci Pak Amir juga, seperti warga kampung?” Andi melontarkan pertanyaan tajam pada Ayahnya.
Ayah Andi menggeleng pelan.  Ayah Andi  menunjuk sesuatu di atas meja makan
“Coba kau lihat gelas  itu, Nak. Gelas itu berisi susu. Seandainya kau masukkan secuil bubuk kopi, apa yang akan kamu lihat?”
“Sepertinya gelas itu akan tetap berwarna putih,. Ayah.” Andi menjawab dengan mantap.
“Nah, disamping segelas susu itu ada segelas kopi hitam. Seandainya Ayah masukkan sesendok susu putih cair, apakah warna hitam akan segera berubah putih?” pancing Ayah Andi.
“Tentu saja tidak, Ayah. Butuh sangat banyak susu putih cair untuk merubah kopi jadi berwarna putih. Juga butuh banyak bubuk kopi untuk merubah susu berwarna hitam.”
“Pintar kamu, Nak.” Ayah Andi tersenyum sambil mengacungkan jempol.
“Anakku, secuil kesalahan takkan bisa menghapus dan merubah kebaikan yang melimpah. Sama halnya dengan secuil bubuk kopi takkan akan merubah warna putih segelas susu. Sikap kita terhadap orang yang melimpah kebaikannya seharusnya demikian. Orang yang telah berbuat baik dalam kurun waktu yang lama dan kebaikannya telah menyebar luas, takkan bisa lenyap begitu saja hanya karena sedikit kesalahan. Kesalahan yang sedikit takkan bisa melupakan kebaikannya yang banyak. Sebagai manusia sangat wajar bila melakukan kesalahan dan karenanya, Tuhan memerintahkan kita untuk memaafkan.”
“Demikian sebaliknya, orang yang telah banyak berbuat dosa dan kesalahan, butuh usaha yang besar untuk bertobat sehingga pekatnya dosa bisa tertutup oleh perbuatan baik yang juga besar kadarnya. Karenanya, Tuhan memberi pintu tobat bagi hamba-Nya yang berbuat dosa dengan syarat dia meminta ampun pada-Nya, meminta maaf pada yang disakiti, tidak mengulangi kesalahannya dan berbuat sebanyak mungkin kebaikan. Tak cukup berbuat baik sekedarnya bagi orang yang terlanjur dosanya telah menghitamkan jiwanya.”
Andi mengangguk pelan. Lalu dia berkata pada Ayahnya.
“Ayah, aku akan tetap menghormati Pak Amir sama seperti dahulu aku menghormati dan memuliakan beliau. Tak ada alasan aku membencinya, apalagi beliau sudah meminta maaf.”
“Oke…kalau begitu, kita tengok Pak Amir besok di Kantor Polisi, ya.”
“Siap, Ayah!”

Ayah dan anak itu kemudian menuju ruang ibadah. Tak lama kemudian mereka telah larut dalam lantuan Ayat-ayat suci .

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BERMANFAAT DALAM KETERSEMBUNYIAN

Oleh Achmad Siddik Thoha

Hampir semua pohon memiliki akar yang tidak kelihatan. Akar berada di dalam tanah untuk menjalankan tugasnya sebagai pondasi. Bila pun akar harus muncul, hanya sebagian kecil saja untuk mengokohkan bagian atas pohon. Akar terus tumbuh di dalam tanah sampai akhir hayat pohon.

Akar yang tersembunyi tidak berarti sepi dari kerja.  Akar mempunyai tugas yang sangat banyak.  Akar menyerap air untuk kebutuhan bagian batang dan daun. Ia menahan tanah agar tidak terbawa air.  Ia membantu membuat kondisi yang nyaman bagi hewan tanah, jamur, bakteri dan mikroba yang berfungsi menguraikan daun, ranting dan bahan organik lain yang jatuh ke tanah.  Akar pohon juga menyimpan air dan bahan-bahan berguna bagi pohon dan manusia

Dalam ketersembunyiannya, akar menyimpan manfaat besar. Khasiat obat dari tumbuhan umumnya terdapat di akar. Bila kita ingin mencari air di hutan carilah dekat akar atau di akar itu sendiri. Tanpa akar, maka penyaluran nutrisi dan air ke seluruh tubuh tumbuhan tidak akan terjadi. Banyak akar memiliki arsitektur yang sangat tinggi nilai seninya.

Akar ada di tempat terpendam. Sering kita terkesima dengan bunga, buah, batang dan daun. Namun kita sering melupakan akar yg penuh manfaat dan penting. Akar sering tak terlihat atau tidak ingin terlihat.

Mengamati akar seperti halnya mengamati kehidupan kita sebagai manusia. Manusia memiliki kesuksesannya masing-masing. Dan kita sering melihat kesuksesan orang lain hanya dari luarnya saja. Kesuksesan kerja sering dilihat dari sesuatu yang terlihat baik pada pribadi maupun organisasi. Kesuksesan pemerintahan sering hanya dilihat oleh siapa kepala daerahnya. Prestasi lembaga dinilai dari siapa ketua umumnya. Keuntungan perusahaan banyak ditujukan pada direkturnya. Atau kecermelangan pribadi dianggap sebagai kontribusi dari gelar dan pengalaman. Seseorang yang berada di garda depanlah yang akan mendapatkan sebutan sebagai orang yang suskes. Seseorang yang memang ’terlihat’.

Namun terkadang kita sering lupa bahwa dibalik kesuksesan diri dan kelompok ada peran serta orang lain yang tersembunyi.  Dibalik kesuksesan pemerintahan, ada pegawai bawahan yang bekerja pontang panting. Dibelakang prestasi organisasi disokong oleh para sukarelawan dan donatur kecil yang berkomitmen membantu. Keuntungan perusahaan adalah sumbangan dari sales-sales dan orang lapangan yang siang malam menjual produk. Kecemerlangan pribadi didukung peran orangtua, istri, anak, guru dan sahabat yang memberikan motivasi. Itulah mereka yang ’tersembunyi’.

Mereka yang berada dibalik kesuksesan dan  tidak tampil di permukaan itulah sebenarnya sang akar-akar kesuksesan.  Banyak akar-akar kesuksesan tidak mau tampil dan ’terlihat’ bahkan  ada yang sengaja menyembunyikan diri.

Sungguh mulia manusia yang mengakar. Ia bersembunyi dan tidak bernafsu menonjolkan diri karena jasanya. Ia lebih memilih terpendam untuk menjadi bermanfaat. Seperti akar. Tak terlihat, sering tak dianggap namun justru memberikan tetes demi tetes kesuksesan lebih besar.  
                                                                          

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bila Sekolah hanya untuk Kerja, Berhenti Sekarang Juga

Assalamu'alaikum wr wb.

Sahabat Himmpas, berikut saya "share" sebuah artikel dari kompas online sebagai renungan, bagaimana posisi kita di era dimana ruang dan waktu sudah tidak menjadi alasan berbuat kebaikan. Semoga menjadi inspirasi kita untuk menebar kebaikan dengan memanfaatkan berbagai kemudahan yang kita kuasai. Semoga bermanfaat 
Wassalam

Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat!

Oleh Yudhistira ANM Massardi
KOMPAS.com - Jika orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga kerja guna kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai, --katakanlah hingga dua dekade ke depan--, yang akan dihasilkan adalah jutaan calon penganggur. Sekarang saja ada sekitar 750.000 lulusan program diploma dan sarjana yang menganggur.

Jumlah penganggur itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa putus sekolah dari tingkat SD hingga SLTA. Tercatat, sejak 2002, jumlah mereka yang putus sekolah itu rata- rata lebih dari 1,5 juta siswa setiap tahun.

Dalam "kalimat lain", ada sekitar 50 juta anak Indonesia yang tak mendapatkan layanan pendidikan di jenjangnya. Jadi, untuk apa sebenarnya generasi baru bangsa bersekolah hingga ke perguruan tinggi?
Jika jawabannya agar mereka bisa jadi pegawai, fakta yang ada sekarang menunjukkan orientasi tersebut keliru. Dari sekitar 105 juta tenaga kerja yang sekarang bekerja, lebih dari 55 juta pegawai adalah lulusan SD! Pemilik diploma hanya sekitar 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta orang. Jika sebagian besar lapangan kerja hanya tersedia untuk lulusan SD, lalu untuk apa anak-anak kita harus buang-buang waktu dan uang demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?

Sir Ken Robinson, profesor pakar pendidikan dan kreativitas dari Inggris, dalam orasi-orasinya, yang menyentakkan ironisme: menggambarkan betapa sekarang ini sudah terjadi inflasi gelar akademis sehingga ketersediaannya melampaui tingkat kebutuhan. Akibatnya, nilainya di dunia kerja semakin merosot.
Lebih dari itu, ia menilai sekolah-sekolah hanya membunuh kreativitas para siswa. Maka, harus dilakukan revolusi di bidang pendidikan yang lebih mengutamakan pembangunan kreativitas.

Paul Krugman, kolumnis The New York Times yang disegani, dalam tulisannya pada 6 Maret 2011, menegaskan fakta-fakta di Amerika Serikat bahwa posisi golongan kerah putih di level menengah— yang selama beberapa dekade dikuasai para sarjana dan bergaji tinggi--, kini digantikan peranti lunak komputer. Lowongan kerja untuk level ini tidak tumbuh, malah terus menciut. Sebaliknya, lapangan kerja untuk yang bergaji rendah, dengan jenis kerja manual yang belum bisa digantikan komputer, seperti para petugas pengantaran dan kebersihan, terus tumbuh.

Kreativitas dan imajinasi
Fakta lokal dan kondisi global tersebut harus segera diantisipasi oleh para pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan. Persepsi kultural dan sosial yang mengangankan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan semakin mudah mendapatkan pekerjaan adalah mimpi di siang bolong!
Namun, jika orientasi masyarakat tetap untuk "jadi pegawai", yang harus difasilitasi adalah sekolah-sekolah dan pelatihan-pelatihan murah dan singkat. Misalnya untuk menempati posisi operator, baik yang manual seperti pekerjaan di bidang konstruksi, manufaktur, transportasi, pertanian, ataupun yang berbasis komputer di perkantoran.

Untuk itu, tak perlu embel-embel (sekolah) "bertaraf internasional" yang menggelikan itu karena komputer sudah dibuat dengan standar internasional. Akan tetapi, kualitas peradaban sebuah bangsa tak cukup hanya ditopang oleh para operator di lapangan. Mutlak perlu dilahirkan para kreator yang kaya imajinasi. Oleh karena itu, seluruh potensi kecerdasan anak bangsa harus dibangun secara lebih serius yang hanya bisa dicapai jika rangsangannya diberikan sejak usia dini.

Maka, diperlukan metode pengajaran yang tak hanya membangun kecerdasan visual-auditori-kinestetik, juga kreativitas dan kemandirian. Kata kuncinya adalah "kreativitas" dan "imajinasi"; dua hal yang belum akan tergantikan oleh komputer secerdas apa pun!

Zaman terus berubah. Sistem pendidikan dan paradigma usang harus diganti dengan yang baru. Era teknologi analog sudah ketinggalan zaman. Kini kita sudah memasuki era digital. Itu artinya, konsep tentang ruang dan waktu pun berubah.

Hal-hal yang tadinya dikerjakan dalam waktu panjang, dengan biaya tinggi, dan banyak pekerja, jadi lebih ringkas. Maka, tujuan paling mendasar dari suatu sistem pendidikan baru harus bisa membangun semangat "cinta belajar" pada semua peserta didik sejak awal. Dengan spirit dan mentalitas "cinta belajar", apa pun yang akan dihadapi pada masa depan, mereka akan bisa bertahan untuk beradaptasi, menguasai, dan mengubahnya.

Membangun semangat "cinta belajar" tak perlu harus ke perguruan tinggi. Kini seluruh ilmu pengetahuan sudah tersedia secara digital, bisa diakses melalui komputer di warnet ataupun melalui telepon genggam. Jadi, cukup berikan kemampuan menggunakan komputer, mencari sumber informasi yang dibutuhkan di internet, dan bahasa Inggris secukupnya karena di dunia maya tersedia mesin penerjemah aneka bahasa yang instan.

Anak-anak cukup sekolah 12 tahun saja (mulai dari pendidikan anak usia dini, PAUD)! Mereka tidak usah jadi pegawai. Dunia kreatif yang bernilai tinggi tersedia untuk mereka, sepanjang manusia masih ada.
Penulis adalah Sastrawan; Pengelola Sekolah Gratis untuk Dhuafa, TK-SD Batutis Al-Ilmi Bekasi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pak Cahyo dan Monumen Hidup di Kampus IPB

Oleh Achmad Siddik Thoha

Lelaki dengan kacamata tebal itu menarik perhatian kami. Ya, kami para mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB khususnya angkatan 29 dan 30 (Tahun 1992 dan 1993). Tidak hanya kaca matanya yang tebal, ia nampak nyentrik dengan topi hitam dan sepatu boat karet , serta payung besar yang selalu setia bersamanya.  Mahasiswa memanggil lelaki yang juga dosen kami dengan panggilan Pak Cahyo.  Pak Cahyo, sebuah kenangan sosok sederhana penuh dedikasi pada lingkungan.

Ingatan saya tidak mudah hilang ketika tahun 1995 – 1996 kami diajar oleh beliau.  Pelajaran Silvika, mata kuliah wajib tentang pepohonan, yang menjadi ciri khas mata kuliah fakultas kehutanan di seluruh Indonesia. Kuliah 3 SKS ini nampaknya berjalan biasa saja.  Sampai saya dan kawan-kawan merasakan ada yang lebih dari kuliah ini.  Kenapa setiap praktikum kami disuruh menamam, menanam dan menanam.  Bahkan pada kuliah lain yang berhubungan dengan pohon, Pak Cahyo pun mengerahkan kami untuk menanam.  Setiap tanah kosong yang ada di kampus menjadi incaran kami.

Saya tidak mudah lupa ketika saat panas terik kami diminta menanam bibit Gmelina (Gmelina arborea) di bukit-bukit kosong  di kawasan kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Darmaga Bogor.  Bukan bukit dan teriknya panas matahari yang buat kami malas, namun karena kami melakukan penanaman saat semua mahasiswa libur.  Meski agak ”gondok”, kami menikmati kegiatan itu.

Bukan tanpa sebab Pak Cahyo mendidik kami menjadi penanam.  Ini berasal dari kebiasaan beliau yang mengelilingi kampus sambil menanam.  Beliau tak hanya menyuruh tanpa ilmu dan teladan.  Siapa yang tak pecaya dengan ajakan seorang Bergelar Master of Science Alumni Jerman dan Doktor dari IPB yang setiap harinya berkeliling kampus membawa benih dan bibit untuk ditanam..  Terkadang saya melihat beliau sendirian membawa bibit dan cangkul kemudian ditanamnya di lokasi yang menurutnya layak. Saya sempat mendengar sindiran dari kawan-kawan dan dosen lain tentang ”ulahnya” yang tidak seperti biasanya.  Saya pernah mendengar sesorang menamakan kegiatannya ”illegal planting” (penanaman tak legal).  Sebuah istilah bernada tidak mendukung.

Sekitar enam belas tahun berlalu. Kini hasil kegiatan penanaman kami sudah bisa dinikmati adik-adik kelas kami. Ruang kelas DAR (istilah ruangan kelas besar Fakultas Kehutanan IPB Darmaga) sekarang laksana bangunan di tengah hutan. Demikian juga halaman depan kelas DAR, menjadi teduh dan penuh kicuanan burung.  Bibit-bibit Gmelina kurus yang kami tanam dulu, kini menjelma menjadi menjadi pohon besar berdiameter batang 30 cm lebih dan tinggi lebih dari 15 m. Gmelina kesayangan Pak Cahyo dan kami ini, juga menanungi kampus-kampus di luar Fakultas Kehutanan. Kini, saya dan kawan-kawan kuliah seangkatan mempunyai kebanggaan tersendiri karena jerih payah kami, pohon Gmelina kini menjadi monumen hidup yang bermanfaat.

Pak Cahyo, yang kini telah bergelar Doktor, dengan sikapnya yang cuek, nyentrik dan tidak peduli omongan orang, benar-benar telah membuktikan sebuah karya besar bagi kami.  Meski ia bukan seorang ahli yang ternama, bukan profesor, bukan dosen bertabur penghargaan dan proyek, ia adalah dosen teladan bagi saya. Beliau bekerja dan terus bekerja meski sering mendapat sindiran dan cibiran. Sebuah inspirasi hidup yang keluar sosok tanpa banyak kata dan sederhana.

Beliau juga mendidik mahasiswanya untuk tidak terlalu memikirkan legalitas, formalitas dan rasa pantas atau tidak.  Apapun kita, kalau mau berbuat baik, tanggalkan semua simbol, baik pekerjaan, asal-usul, gelar akademik, jabatan publik, ketokohan dan status lainnya.  Pak Cahyo berbuat sesuatu tidak menunggu Surat Tugas, Surat Keputusan dan Anggaran Kegiatan. Begitu dia memegang cangkul dan bibit, saat itulah pekerjaan harus dituntaskan. Bagi Pak Cahyo, menamam pohon sama seperti melakukan amal-amal baik lain. Bahkan menanam pohon adalah amal yang penuh rasa berserah diri pada-Nya.  Hanya Tuhan yang bisa menjamin pohon ini terus tumbuh meski kita sudah merawatntya. Namun rasa berserah diri itu tetap ddasarkan pada usaha yang maksimal.

Pak Cahyo saya pikir juga memahami dan mengamalkan sebuah ungkapan yang pernah saya dengar dari sebuah pengajian di Pesantren:
” Jika bukan karena harapan, niscaya takkan ada orang yang mau menanam pohon dan takkan ada ibu yang mau menyusui anaknya”.
Tentu Pak Cahyo tak pernah lupa bahwa ini bukan jasa dia semata.  Saat bertemu saya, dia menyatakan bahwa pohon Gmelina itu hasil tanaman dari praktikum saya dan kawan-kawan seangkatan. Sebuah ungkapan rendah hati dari seorang penanam tanpa kenal lelah yang sangat menginspirasi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS