Gendongan Terakhir

Oleh Achmad Siddik Thoha

Anak perempuan itu hari-harinya kini murung. Caca namanya. Di usianya ke lima tahun, dia tidak seceria teman-temannya.  Dilihatnya, semua teman-temannya bermain bersama orang tuanya tiap pagi. Mereka digendong dengan mesranya oleh ayah mereka. Tertawa, berlari dan bercanda riang. Sementara dirinya, bertemu Ayahnya saja sangat sulit. Ayahnya pekerja yang sibuk. Hari-harinya dijejali dengan aktifitas untuk mengejar target pekerjaan. Bahkan di hari libur kerja, ayahnya memilih membawa setumpuk pekerjaan kantornya ke dalam rumah.
Pernah Caca mendatangi Ayahnya yang sedang mengetik di kamar yang dijadikan tempat kerja.

“Ayah….aku mau main sama Ayah. Pengen digendong belakang.”
“Sebentar ya Caca, Ayah selesaikan dulu. Caca kan bisa main game atau nonton TV. Ayah selesaikan dulu, ya.”
“Ayah…sebentar saja, tidak lama, cuma digendong.” 
“Caca, Ayah sibuk. Kalau ini tidak selesai, Ayah tidak akan dapat uang tambahan. Ayah kan bisa belikan hadiah lagi buat Caca.  Sudah, sana ke Mama.”

Caca berpaling. Wajahnya begitu sedih. Sejak itu Caca tidak berani lagi meminta untuk digendong ayahnya.
Pagi sekali, Ayah Caca berangkat kerja. Mobilnya melesat cepat membelah kabut pagi di jalanan yang masih sepi. Baru lima belas menit mobil melaju, Ayah Caca melihat kerumunan orang di depan.  Karena macet, dia mencoba turun mencari tahu peristiwa yang terjadi.

Ternyata ada perempuan sebesar Caca yang bersimbah darah terlentang di tengah jalan. Seorang gadis kecil ditabrak mobil. Kesalnya, mobil penabrak itu lolos dari kejaran masyarakat sekitar tempat kejadian.

Tanpa pikir panjang, Ayah Caca menggendong gadis itu ke mobilnya. Ia segera melarikan gadis yang sudah sekarat itu ke rumah sakit. Tiba di ruang ICU, dokter dan petugas medis segera menanganinya.
“Pak, mohon maaf, ini anak Bapak? Dia tidak bisa dielamatkan, Pak.”

Sedih, bingung dan panik. Dengan batuan masyarakat yang ikut dengannya, Ayah Caca mengantar gadis yang sudah meninggal itu ke rumahnya.

Rumah gadis malang itu sudah nampak di depan matanya.  Ayah Caca kemudian menggendong gadis yang dibungkus kain putih. Dilihatnya wajah gadis mungil yang cantik. Wajahnya secantik Caca. Tiba-tiba seperti ada suara gaung seperti suara Caca. Wajah Gadis itu pun berubah seolah wajah Caca yang mengucapkan sebuah kalimat pendek
“Ayah, gendong, sebentar saja.”
Tiba-tiba Ayah Caca merasakan sosok dalam gendongannya itu anaknya.

“Caca….jangan tinggalkan Ayah, nak.” Tangis Ayah Caca pecah.  Sementara masyarakat dan orang tua gadis yang sudah meninggal itu terheran-heran.

“Pak, kenapa menangis? Bapak begitu sedih meilhat anak saya meninggal, ya? Terima kasih atas segala bantuan, Bapak.”
Ayah Caca baru tersadar. Ternyata bukan anaknya sendiri yang dgendongnya. Iya sangat bersyukur. Caca masih ada. Tuhan masih memberinya waktu untuk menggendongnya. Menggendong saat hidup bukan ketika sudah tak bernyawa

“Syukurlah, ini bukan Caca. Ya, Tuhan, maafkan aku…!”
Segera ia berpamitan pada keluarga gadis malang itu. Dia langsung melesat ke rumahnya. Pikirannya hanya satu,  “Aku akan menggendong Caca.”
****

Sahabat, banyak peristiwa kecil yang bisa membawa kita pada penyesalan mendalam karena mengabaikannya. Dalam hidup yang penuh dengan ketergesa-gesaan ini, kata “sebentar” sepertinya sangat langka. Seolah-olah semua hal harus selesai dengan segera, sedangkan momen ”sebentar” hilang tertelan perlombaan mengejar materi.  Sementara, sesuatu yang ”sebentar” itu akan bisa mengguncang keras hidup kita karena mengacuhkannya. Seringakali kata ”sebentar” itu akan kita sesali karena takkan pernah didengar lagi di dunia. 

Sebenar saja, berakrab ria dengan keluarga, mencium anak melepasnya sekolah, mampir membelikan oleh-oleh buat orang tua, menjawab surat atau pesan dari saudara, merenungi ayat-ayat Tuhan, berolah raga di akhir pekan, duduk sekejap setelah beribadah, menyapa tetangga dan bahkan menggendong seorang ”Caca” dalam kehidupan kita. Momen yang ”sebentar” itulah justru yang membuat kedamaian, penumbuh cinta dan pendorong semangat hidup kita.

Sahabat, kenapa kita tidak memilih jalan memutar untuk menghilangkan kejenuhan.  Mengapa kita harus melalui hidup dengan jalan yang itu-itu saja. Saat kita mengambil jalan memutar, udara yang lebih segar akan kita hirup, pemandangan lebih indah bisa kita nikmati serta kepiluan dan kesedihan bisa kita lepaskan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kerikil dalam Sepatu


Oleh Achmad Siddik Thoha

Seorang pendaki gunung ternama sedang memimpin tim pendakian menuju salah satu puncak gunung tertinggi di dunia. Dia membawa banyak sekali peralatan agar segala hal buruk bisa ditangani. Dia terkenal sangat teliti dan matang dalam menyiapkan bekal dan segala antisipasi yang akan terjadi selama pendakian.  
Perjalanan baru menempuh setengah jarak dari kaki gunung. Tiba-tiba sang ketua tim merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dalam sepatunya. Sesuatu yang terasa menggelikan namun sedikit mengganggu kenyamanan kakinya saat memijak bumi.
“Ah, hanya kerikil kecil.” Bisiknya dalam hati. 
Ia tak mempedulikan kerikil yang terus bergerak bebas menekan kakinya. Beberapa ratus langkah kemudian ia merasakan sedikit perih di telapak kakinya. Ia sempat berpikir untuk berhenti dan membuka sepatunya.

“Ah, tak usah lah, Cuma kerikil kecil. Kalau aku berhenti nanti akan memperlambat sampai ke puncak. Hawa dingin inilah yang berbahaya bagiku. Kerikil tak ada apa-apanya.” Sang ketua tim meyakinkan dirinya. 

Saat istirahat tiba, sang ketua tim tetap tak mempedulikan kerikil di dalam sepatunya. Bahkan saat tidur ia sengaja tak membuka sepatunya agar bisa terlindungi dari udara dingin yang menusuk. 

Dua hari berlalu. Tiga perempat perjalanan sudah dilalui oleh tim pendaki gunung. Sang ketua tim terlihat berjalan terpincang-pincang. Ia mulai merintih kesakitan. Akhirnya ia berhenti.
Kawan-kawannya membantu membukakan sepatunya. Setelah kaos kaki ketua timnya dibuka, terciumlah bau yang sangat busuk. Anggota tim semakin kaget setelah melihat kaki ketua timnya terdapat lubang luka yang cukup besar dan bernanah. Si pendaki ternama itu pun kaget dan kemudian pingsan.

Akhirnya pendakian dilanjutkan sedangkan ketua tim langsung dikirim ke Rumah Sakit terdekat.  Saat anggota tim pedakian sudah tiba dipuncak, mereka mendengar kabar, bahwa ketua timnya menjalani amputasi kaki. 
***

Sahabat, terkadang kita meremehkan kesalahan atau dosa yang dianggap kecil yang kita perbuat dalam menjalani hidup. Kesalahan sebenarnya adalah kerikil tajam yang terus menggerogoti kaki kita selama perjalanan. Kerikil itu akan membuat “kaki” kita terkoyak dan kemudian terluka. Luka yang dibiarkan menganga akan menjadi sasaran kuman yang bisa membusukkan langkah-langkah kebaikan dan cita-cita mulia kita.

Sahabat,  barangkali kita peduli dengan kesalahan atau masalah besar yang terlihat di depan mata, namun abai menyingkirkan kesalahan kecil yang kita perbuat. Kita mungkin bersikap remeh dengan kesalahan kecil sehingga tidak merasa perlu memperbaikinya segera. Kita mungkin pernah berbuat dosa yang kita anggap kecil dan lupa untuk memohon ampun pada-Nya. Pada akhirnya, kesalahan dan dosa yang kita anggap kecil itu, bisa menjadi perintang kita untuk mendapat kasih sayang-Nya, menjadi penghalang terkabulnya doa-doa kita dan menjadi sebab bertumpuk-tumpuknya masalah yang tak berujung dengan penyelesaian.

Sahabat, waspadalah  dengan “kerikil-kerikil” kesalahan dan dosa dalam hidup kita agar tidak membuat hati kita busuk dan langkah kita terhenti untuk menggapai cita-cita mulia. Bila ada kerikil kecil dalam hidup kita, segera buka hati dan singkirkan dengan memohon ampun pada-Nya, meminta maaf pada yang dizhalimi dan banyak berbuat baik, agar tidak menggoreskan luka dan membusukkan jiwa kita.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

POHON-POHON YANG BERJAMAAH

Oleh : Achmad Siddik Thoha

Sebatang Pohon bisa tumbuh sendiri bila di tempat tumbuhnya terdapat cukup cahaya, air dan tanah yang subur. Benih yang jatuh di atas tanah subur, kemudian hujan menyiraminya dan matahari menghangatinya, maka tumbuhlah pohon. Pohon yang menyendiri ini bisa terus tumbuh dan memberi manfaat.

Pohon yang tumbuh sendiri akan sendiri pula menghadapai tantangan dari luar. Ia harus menangkap hujan sendiri untuk meresapkan air ke dalam bumi. Pohon akan sendirian menatap matahari yang terik. Saat hujan mulai jarang berkunjung, ia semakin berat menjalani hidup dalam kesendirian. Kekeringan begitu memilukan bagi pohon sendiri. Saat badai menerjang, pohon mengalami tekanan makin berat. Ia harus menahan sendiri tubuhnya agar tidak terlempar dan tumbang.

Pohon menyendiri memberi manfaat tak sebesar manfaat kumpulan pohon. Ia, pohon menyediri, menangkap air yang sedikit dari curahan hujan. Ia hanya menaungi wilayah yang sempit dari tajuk tunggalnya. Ia juga hanya menghasilkan biji-bijian yang terbatas untuk makanan hewan. Ia membantu meresapkan air sedikit saja di tanah-tanah dekat ia tumbuh. Ia juga hanya mencengkeram tanah yang sempit untuk terlindung dari erosi dan longsor.

Kumpulan pohon akan memberi banyak hasil dan manfaat bagi diri mereka dan lingkungan. Mereka, kumpulan pohon, akan mempunyai kekuatan lebih besar menghadapi tantangan luar dari pada pohon menyendiri. Mereka lebih kuat menantang badai.  Mereka sangat siap menghadapi kemarau panjang. Ketika curah hujan sangat tinggi, mereka sanggup menangkap, meneteskan perlahan dan menampung air di bawah tanah. Saat ada serangan dari hama penyakit, mereka sanggup bertahan. Ya, kumpulan pohon itu bisa kita sebut sebagai pohon yang berjamaah.

Pohon-pohon yang berjamaah akan memberi manfaat yang banyak bagi mereka sendiri dan lingkungannya. Mereka mendapat sangat cukup air dari tanah-tanah yang basah karena banyak air yang bisa diserap akar. Mereka bisa menaungi sangat luas lahan disekitarnya. Mereka menghasilkan biji yang melimpah hingga lebih banyak makhluk yang memanfaatkannya. Mereka menangkap banyak air hingga mampu memenuhi sumur-sumur dan mengalirkan air ke sungai. Dengan perlindungan daun dan ranting yang lebat serta cengkraman akar yang kuat, mereka bisa melindungi tanah dari kerusakan akibat erosi dan longsor. Mereka juga mencegah banjir dengan kemampuan memperlambat aliran air, menyerap lebih banyak air ke dalam tanah dan melepaskan air perlahan ke sungai.

Bila pohon berjamaah memberi kekuatan lebih menghadapi tantangan dan memberi banyak manfaat, begitu pula kita. Saat tantangan, cobaan dan ujian hidup menimpa, hidup dalam kesendirian sangatlah berat dirasa. Sebaliknya, hidup sendirian lebih rapuh dan sulit menghadapi tantangan. Tanpa ada orang-orang yang menguatkan, meneduhkan dan melindungi, hidup sendirian dengan banyak masalah bisa membuat kita terpental dan gagal dalam kehidupan.

Hidup berjamaah tidak hanya dimaknai sebagai hidup dalam kumpulan orang tanpa tujuan dan aturan. Hidup berjamaah adalah hidup dalam komunitas dengan beragam karakter dan latar belakang yang kemudian mengorganisir diri dalam mencapai tujuan bersama. Seperti pohon-pohon yang ada di dalam hutan, mereka berbeda jenis dan karakter namun membentuk sistem untuk bersama-sama menjadi penyangga kehidupan.

Hidup berjamaah akan memberikan kekuatan lebih dalam menghadapi ujian hidup. Berjamaah akan menciptakan pertahanan yang kuat dalam melawan guncangan hidup. Berjamaah melahirkan tanggungjawab bersama menjalani hidup untuk berbagi, memikul beban bersama dan menuju tempat tujuan secara bersama pula. Bahaya apapun yang mengancam kehidupan kumpulan orang yang berada dalam kebersamaan akan lebih ringan dihadapi.

Sahabat, Hidup sendiri dan menjadi baik akan memberi manfaat, namun sangat terbatas. Hidup bersama orang-orang yang baik akan meningkatkan kualitas kebaikan kita.  Kebaikan yang diberikan banyak orang secara terorganisir akan meberikan manfaat yang luas jangkauannya, tinggi kualitasnya dan banyak cakupannya. Kumpulan orang dengan tujuan dan organisasi yang baik akan memberikan keteduhan yang lebar jangkauanya, kejernihan amal atau karya yang mengalir jauh, perlindungan bagi sesamanya yang lebih kokoh dan kesejahteraan yang luas.

Sahabat, indahnya hidup berjamaah laksana harmoni yang menakjubkan dari kumpulan pohon-pohon. Sulitnya hidup sendiri laksana pohon yang hidup merana hidupnya tanpa pendamping pohon lainnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Merawat, Merapikan dan Mengoptimalkan Catatan Kita

Pada sebuah diskusi tentang konservasi burung di Indonesia, Bapak Yus Rusila Noor , seorang ornitolog (ahli burung) spesialis burung air memulai pembiacaraanya dengan sebuah pertanyaan menarik”

“Siapa yang mengisi buku catatannya selama birdwatching (pengamatan burung) tadi? Coba tunjukkan buku kalian.”

Terlihat hanya kurang dari separuh birdwatcher (pengamat burung) yang mengacung.  Kebanyakan birdwatchers hanya mengisi sedikit catatan selama 3 jam berkeliling Kebun raya Bogor sejak pukul 7 pagi.

“Ilmu tentang burung berkembang dari buku-buku catatan kecil seperti yang kalian pegang. Ini buku yang saya pakai sejak tahun 1980-an.”

Pak Yus, demikian beliau dipanggil, memperlihatkan buku tulis kecil yang tebal, yang sering disebut “notes” dengan cover tebal yang dilekatkan lakban hitam. Bukunya nampak kucel dan warna nya buram. Namun ketika beliau membuka lembar demi lembar isi catatannya terlihat begitu rapi dan detil. Terlihat pula sketsa burung meski sangat sederhana. Luar biasa, bayangkan sudah 30 tahun buku dan isinya masih terawat.

“Buku kecil tebal ini isinya lebih rapi an detil.  Sedangkan untuk di lapangan, saya memakai ini.” Beliau menunjukkan sebuah buku lebih kecil seukuran 15 x 8 cm dengan spiral dipinggirnya.
“Yang kecil ini saya catat apa pun yang saya ingat, termasuk berapa ongkos naik ojek beli gorengan, beli buras, (nasi yang dibungkus daun berukuran kecil seperti lontong) dan lain-lain. Setelah itu baru dipindah ke buku yang lebih besar dengan catatan yang lebih rapi dan mudah dipahami.”

Beliau lalu melanjutkan:
“ Sebagai seorang birdwatcher, kejujuran adalah  hal pertama. Kedua adalah menumbuhkan rasa percaya diri dengan apa yang kita temukan. Ketiga Disiplin dan konsisten dengan waktu pengamatan dan keempat. Kita harus tahu diri dan dapat mengontrol diri. Itu filosofi yang harus benar-benar dihayati dan diparkatekkan di lapangan.”

”Kenapa saya menunjukkan buku kecil ini?” Pak Yus membuka sebuah pertanyaan renungan pada peserta diskusi.”
”Kalian jangan terlalu percaya diri dengan otak atau memori. Paling lama kita hanya bisa mengingat sesuatu dalam hitungan jam, setelah itu lupa. Catatan ini akan sangat berguna untuk secara pasti kita mengingat obyek dan kejadian yang kita temui secara detil. Tulis apa saja yang kalian temukan. Milikilah buku catatan sebanyak mungkin.  Teman saya dari Jerman ini setiap bulan mengganti buku catatan tebalnya dengan yang baru.” Beliau menunjuk wanita Jerman yang diketahui bernama Bea Maas disampingnya yang juga menjadi pembicara dalam diskusi ini.”

”Yeah, I always start new book every month. Everything what I thought, I have to write here.”

Tegas Miss Bea Maas, seorang peneliti burung Kandidat Doktor dari Gottingen University seolah menegaskan betapa pentingnya mencatat segala hal.

Di masyarakat kita, budaya mencatat sangatlah minim. Kita lihat masyarakat lebih suka mendengar dan berbicara dari pada mencatat dan menuliskan kembali catatannya.  Lihatlah ketika acara seminar, kuliah, pelatihan atau kunjungan, berapa banyak orang yang mencatat di acara tersebut. Mereka terlihat sangat percaya diri dengan otak mereka. Akhirnya, orang-orang yang tak mencatat itu kebingungan saat ada sesi evaluasi karena tak ada yang bisa diingatnya kembali.

Orang yang tak mencatat merasa aman karena sekarang pembicaraan bisa direkam. Catatan bisa pinjam dan menfoto copynya dari teman. Diktat atau modul juga tinggal dibeli.  Namun seberapa jauh kepahaman orang yang tak pernah mencatat saat membaca catatan orang lain yang belum tentu bisa dibaca.  Seberapa ingat orang tak mencatat ketika mendengar rekaman yang kita tak mengikutinya.

Budaya mencatat lahir di kalangan bangsa yang maju.  Banyak buku laris yang ternyata lahir dari catatan-catatan perjalanan.  Bahkan sebuah buku ilmiah yang sangat berguna, seperti buku panduan lapangan pengenalan jenis tumbuhan dan hewan lahir dari ketekunan peneliti merawat dan menuliskan kembali catatannya. Para ulama an agamawan juga melahirkan karya besar dengan tekun membuat catatan dan merawatnya. Kitab-kitab suci terpelihara karena dituliskan kembali dengan detil oleh penulis yang tekun. Bisa dibayangkan, bagaimana kalau budaya mencatat ini hilang, maka ilmu pun akan lenyap.

Sahabat....Kita mungkin pernah mendengar sebuah kata mutiara, ”Ilmu itu laksana binatang buruan, maka jeratlah ia dengan menuliskannya.” Kata mutiara ini sangat relevan dengan ajakan Pak Yus untuk selalu mencatat ilmu, ide atau obyek penting yang kita peroleh.

Sahabat.... mencatat adalah sarana kita untuk terus hidup dan menghidupkan.  Hidup karena kita bisa berbagi pada yang lain. Menghidupkan, kalau ada catatan kita yang membangkitkan semangat orang lain.  Bukankah orang yang hidup adalah yang masih sanggup berbagi dan tak kehilangan semangatnya. Orang yang banyak catatannya akan dikenang karya dan mengalir kebaikannya sepanjang masa.  Ia tetap hidup jiwa dan pikirannya meski jasadnya lenyap.

Sahabat, setiap saat kita telah mencatatkan kehidupan kita melalui amal-amal kita. Catatan hidup itu akan dibuka kelak saat kita harus menghadapi hari pembalasan. Pastikan kita memiliki catatan kehidupan yang indah dan berbuah surga.

Kota hujan, 16 Juli 2010
Achmad Siddik Thoha
siddikthoha@yahoo.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Salah itu Indah

Oleh : Achmad Siddik Thoha

Beberapa waktu lalu saya mengikuti kuliah yang sangat berkesan dalam perjalanan kuliah di Pascasarjana IPB selama ini. Mata kuliah Analisis Resiko Ekologi (ARE) saya ambil di semester 2.  Dosen pengajar ARE adalah seorang Guru Besar konservasi sumberdaya alam yang dikenal di Indonesia yaitu Prof Dr Ir Hadi Alikodra. Beliau pernah menjabat Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup saat menterinya Sarwono Kusumaatmaja.
Siang itu begitu terik dan melelahkan bagi saya. Tiga hari ini tenaga terkuras dengan tugas-tugas yang banyak dan jadwal kuliah yang padat.Presentasi serta meresume jurnal dan paper internasional telah menjadi makanan yang mengenyangkan otak kami, saya dan kawan-kawan kuliah.
Siang ini, materi kuliah benar-benar diluar dugaan kami. Kami yang belajar tentang ekologi dan resikonya, malah disuguhi materi tentang etika konservasi. Materi kuliah ini berisi bahasan tentang nilai, persepsi dan moral serta keseimbangan antara intelektual, emosional dan spiritual. Menurut Profesor Alikodra, kerusakan lingkungan dalam dua dekade ini disebabkan rendahnya kualitas moral manusia.

Kami bertambah semangat ketika beliau menyuguhkan coffeemix panas untuk  menyemangati kami yang sepertinya sudah mulai suntuk.  Tentu saja kami tersenyum manis menghirup wangi kopi yang tak lama kemudian terhidang di depan kami. Hmmm....nikmatnya kopi ini.

Saat masuk pada pembahasan tentang nilai, Profesor Alikodra lalu menunjuk sebuah lukisan yang terpampang didinding ruang kuliah ber AC. “Coba kalian lihat lukisan itu, apa nilai yang terkandung di dalamnya” Suruh beliau.  Kami pun serentak memandangi lukisan bergambar sepasang burung merpati dan sepasang burung cendrawasih yang hinggap di pepohonan yang penuh dengan bunga dan  buah.  Pohon itu bahkan ada buah anggur di tangkainya. Lalu kami pun menjawab satu per satu. Beberapa jawaban yang terlontar bahwa nilai dari lukisan itu adalah keharmonisan, keindahan, keanekaragaman dan kedamaian.
“Bagi saya, lukisan itu, itr wrong” Begitu tanggapan beliau setelah mendengar jawaban kami.  “Kenapa begitu ?”  Beliau melanjutkan tanggapannya.
“Mana mungkin merpati dan cendrawasih hidup berdekatan, dan mana mungkin ada anggur tumbuh di tangkai pohon. Bagi saya...It’s wrong.”
Lalu beliau menjelaskan bahwa nilai itu bersumber dari pengalaman, pengetahuan dan rasa. Nilai akan melahirkan persepsi dan persepsi memunculkan moral atau etika pada individu atau masyarakat. Imajinasi boleh-boleh saja menghasilkan karya yang indah. Namun imajinasi harus berdasarkan pengetahuan yang benar sehingga nilai yang dipetik dari sebuah karya tidak menyesatkan.
Sebuah lukisan yang salah secara logika ternyata mempunyai nilai yang indah bagi seseorang. Memang keindahan itu rasa, namun bila berbagai kesalahan, ketidakpantasan, kekonyolan adalah sebuah keindahan, maka sungguh sangat menyesatkan nilai yang sudah tertanam pada diri manusia.

Maka kita bisa lihat, betapa kehidupan masyarakat di sekitar kita dipenuhi dengan keindahan-keindahan yang salah. Wanita yang mengumbar auratnya dan bergerak mengundang godaan dianggap keindahan. Berkata-kata kotor, menghina, berbohong dan merendahkan martabat orang ain dengan alasan melucu atau menghibur adalah indah. Membangun mall dengan menggusur areal hijau penuh dengan pohon dianggap keindahan.  Bahkan ada ungkapan yang menggelikan yang dikatakan teman saya bahwa selingkuh itu indah. Bila disederhanakan bahwa melakukan hal yang haram itu indah.  Astaghfirullah...keindahan inikah yang saat ini melingkupi mata, otak dan hati sebagian masyarakat. Sungguh memprihatinkan.

Bila kesalahan –kesalahan banyak yang dianggap indah, sebaliknya kebaikan-kebaikan malah dianggap kuno, membatasi, tidak menghargai perasaan, teroris atau tidak umum. Maka pantas saja banyak pihak yang lebih menyukai tanah-tanahnya gundul, halaman gedung dan rumah-rumah tak bertanaman, memuji perbuatan dosa karena berani mengaku dan menggunakan cara-cara tak wajar dan salah untuk mempopulerkan diri. Kerusakan itu bermula dari nilai yang menyesatkan yang tertanam dalam pikiran mereka. Kesalahan nilai akan berdampak pada persepsi yang tidak benar dan akhirnya kualitas moral juga akan rendah.
Saya jadi teringat lagu Rhoma Irama
Mengapa sumua yang enak-enak itu diharamkan....
Mengapa semua yang asyik-asyik, itu yang dilarang.....

Ya, karena salah itu indah....bagi orang yang berpikiran salah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Iman dan Ukhuwah

Ada dua kaidah asasi (pokok) yang menjadi tonggak atas kehidupan seorang muslim dan pemahamannya dalam kehidupan ini, dimana keduanya harus dimiliki agar dapat mampu mengemban amanah yang mulia seperti yang diperintahkan Allah SWT, yaitu: Iman dan Ukhuwah.

Iman kepada Allah, bertaqwa kepada-Nya, adanya perasaan dipantau oleh-Nya pada setiap detik kehidupan, dan ukhuwah karena Allah, adalah yang membuat suatu jamaah muslimah memiliki pondasi kehidupan yang kuat dan kokoh. Mampu menunaikan perannya yang besar dalam mensejahterakan kehidupan umat manusia, dan berperan dalam menganjurkan kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, serta menegakkan kehidupan atas dasar kebaikan dan membersihkannya dari segala kemungkaran.

Iman dan ukhuwah, dua pondasi utama yang menjadi kemestian hidup suatu jamaah muslimah sehingga mampu menunaikan perannya yang agung dan mulia. Jika salah satunya sirna maka tidak akan ada jamaah muslimah dan tidak akan mampu melaksanakan perannya di muka bumi ini.

Yang utama adalah keimanan dan taqwa… Taqwa yang mampu mencapai pada kesempurnaan penunaian hak-hak Allah yang Maha Agung. Taqwa yang terus berkesinambungan dan selalu awas, yang tidak pernah lalai dan futur dalam setiap waktu dari masa hidupnya hingga datang ajal menjemputnya.

Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa”.(QS.3:102.

Bertaqwalah kepada Allah; demikianlah perintahnya tanpa ada batasan, menuntut hati untuk bersungguh-sungguh mencapainya seperti yang digambarkan dalam diri dengan segala kemampuannya, setiap kali hati mengalami keteledoran maka akan terungkap aspek-aspek kelemahannya lalu setelah itu akan bertambah rasa rindu kepada Rabb-nya. Setiap kali merasakan kedekatan dan taqwa kepada Allah, bangkit rasa kerinduannya ke jenjang yang paling tinggi dan menuju peringkat yang dapat mencapai pada maqom (kedudukan) yang mampu membangkitkan hatinya yang tidak akan pernah istirahat (tidur).

Allah berfirman: “Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan berserah diri”, sesungguhnya kematian merupakan kepastian, namun mati juga merupakan hal gaib yang tidak diketahui manusia kapan datangnya. Maka barangsiapa yang tidak ingin mati kecuali dalam keadaan Islam maka dia harus berada dalam setiap waktunya berada dalam keadaan berserah diri (Islam). Dan disebutkan nya kata “Islam” setelah “taqwa” berarti memiliki makna yang sangat luas, yaitu berserah diri, atau berserah diri kepada Allah, taat kepada-Nya, dan mengikuti manhajnya serta berhukum kepada kitabnya…

Setiap perkumpulan yang jauh dari iman, maka perkumpulan itu merupakan perkumpulan jahili…

Adapun yang kedua adalah ukhuwah; ukhuwah karena Allah, di atas manhaj Allah dan dalam merealisasikan manhaj Rabbani yang agung. “Dan berpegang teguhlah kepada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah saat itu kalian saling bermusuhan maka disatukan antara hati kalian maka jadilah dengan Nikmat Allah saling bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.(QS.3:103)

Gambaran di atas yang dilukiskan Al-Quran terhadap mereka yang bertemu dalam tali (agama) Allah dan menjadikannya sebagai manhaj, perjanjian dan agamanya, merupakan pertemuan yang bukan sekadar pertemuan untuk mencapai keuntungan yang nisbi atau mencapai tujuan tentunya, namun pertemuan yang berdasarkan pada ukhuwah islamiyah.

Persaudaraan yang terjaga dengan tali Allah merupakan kenikmatan yang diberikan Allah atas jamaah muslimah; yaitu nikmat yang diberikan bagi mereka yang dicintai dan dikehendaki Allah dari hamba-hamba-Nya. Hal ini mengingatkan kepada kita akan nikmat yang begitu besar, dan mengingatkan kita bagaimana kita sebelumnya dalam keadaan jahili saling bermusuh-musuhan.

Tidak ada seorang pun yang tidak memiliki permusuhan antara kaum Aus dan Khazraj di kota Madinah sebelum Islam. Namun setelah masuk Islam, Allah menyatukan hati di antara mereka. Tidak ada solusi sedikit pun kecuali Islam yang dapat menyatukan hati yang beragam bentuknya, tidak ada yang terjadi kecuali karena tali Allah yang dapat menyatukan mereka menjadi saudara, dan tidak mungkin hati-hati itu akan bersatu kecuali karena ukhuwah fillah.

Karena itulah marilah sama-sama kita satukan hati karena Allah, karena keimanan tanpa ukhuwah akan hampa sedangkan ukhuwah tanpa iman akan sirna.

Oleh: Syarifuddin Mustafa, MA
dakwatuna.com 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

JURANG KESESATAN

(Kajian Al Qur’an surat Al-Qiyaamah ayat 31-40)

31.  Karena dia (dahulu) tidak mau membenarkan (Al-Qur’an dan Rasul) dan tidak mau melaksanakan shalat,
32.  tetapi justru dia mendustakan (rasul) dan berpaling (dari kebenaran),
33.  kemudian, dia pergi kepada keluarganya dengan sombong.
34.  celakalah kamu! Maka celakalah!
35.  sekali lagi, celakalah kamu (manusia)! Maka celakalah!
36.  apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja(tanpa pertanggungjawaban)?
37.  bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan (kedalam rahim),
38.  kemudian (mani itu) menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya,
39.  lalu Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan,
40.  bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa(pula) menghidupkan orang mati?

Dalam kehidupan di dunia terdapat dua kelompok manusia, yaitu manusia yang mendapat hidayah hingga istiqomah berpegang teguh pada aturan/syari’at Allah dan kelompok manusia yang berada dalam kesesatan yang nyata, manusia yang selalu membantah apa yang telah diperintahkan Allah padanya, manusia yang menjadi agen-agen iblis untuk kalangannya (manusia).
Walaupun hidayah dan kesesatan pada manusia merupakan kuasa Allah, namun setiap manusia belum mengetahuinya, dan ada beberapa penyebab manusia dapat berada jurang kesesatan, yaitu:

1. Sifat takabur.
Sifat sombong dimiliki oleh manusia dan selalu menganggap lebih tinggi dari yang lain. Sifat yang ditularkan oleh iblis dalam hati manusia seperti salah satunya yang termaktub dalam QS. Al-A’raf: 12-13
Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.". Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina."(TQS. Al-A’raf: 12-13).
Bahkan pada ayat lain di surat Al-A’raf (ayat 146), Allah berjanji akan menjauhkan nikmat yang terdapat pada ayat-ayatNya karena sifat takabur yang dimiliki seseorang.
Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. (TQS. Al-A’raf: 146).

2. Tidak mau mendengar dan berpikir
Manusia berada tetap dalam kesesatan ketika mereka tidak mau mendengar dan berpikir, dia selalu merasa dirinya berada dalam kebenaran dan selalu melakukan sesuatu benar pada jalan kebenaran. Sifat seperti ini sudah diwanti-wanti oleh Allah dalam surat al-mulk ayat 10 yang merupakan sifat para ahlunnaar, mereka merasa menyesal karena selama hidup di dunia mereka tidak mau mendengar dan berfikir akan setiap nikmat yang telah Allah berikan.
Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala." (TQS. Al-Mulk: 10).
Dan karena bebalnya mereka tidak mau mendengar dan berfikir mereka akhirnya menjadi manusia paling rugi seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Kahfi ayat 103-106.
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?". Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok. (QS. Al-Kahfi: 103-106).
Seharusnya setiap orang selalu belajar, meningkatkan kapasitas diri dalam ‘ilmunya sehingga mampu untuk mendengar dan berfikir akan setiap nikmat Allah, dan tidak selalu merasa benar pada setiap pendapatnya karena keterbatasan daya fikir manusia. Sifat terbuka dan berfikir dicontohkan salah satunya oleh imam syafi’i dan hanafi, beliau selalu belajar dan bertukar fikiran mengenai berbagai hukum fiqih, dan mereka saling menghormati pada setiap hukum yang mereka tetapkan karena semua disesuaikan dengan kondisi masyarakat disekitar tempat tinggal beliau.

3. Tidak mau membenarkan perintahNya padahal sudah mengetahui kebenarannya.
Sudah banyak manusia yang melakukan hal ini, mereka sebenarnya sudah mengetahui seperti apa hukumnya ketika melakukan perbuatan yang dilarang Allah, namun terkadang mereka seakan-akan (pura-pura) belum mengetahuinya, bahkan menjadi penentang hukum Allah yang seharusnya mereka melaksanakannya.

Wallahu’alam bishowab

Disusun berdasarkan taujih Ust. Prof. Didin Hafiduddin.  pada Kajian Rabuan
Tanggal 1Juni, pkl 07.00-07.45, di Ruang Aula Masjid Al Hurriyyah IPB

PSDM HIMMPAS IPB  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS