HURU HARA HARI KIAMAT


(Kajian Surat Al Qiyaamah : 1 – 15)

Surat Al Qiyaamah termasuk dalam golongan surat-surat Makiyyah dan diturunkan sesudah sesudah surat Al Qaari’ah. Dinamakan Al Qiyaamah (Hari Kiamat) diambil dari perkataan Al Qiyaamah yang terdapat pada awal surat ini. Sebagian besar surat ini menceritakan tentang kehebatan hari kiamat. Saat pahala dan siksaan yang dialami manusia tiada batasnya.

Bila kita kaitkan dengan surat sebelumnya yaitu surat Al Muddatstsir maka kita akan menemukan hubungan antara kedua surat ini. Pada Surat Al Muddatstsir digambarkan begitu banyak peringatan yang Allah berikan kepada orang-orang kafir. Bagaimanapun peringatan-peringatan itu diberikan tetapi tetap saja mereka tidak merasa gentar dan takut dengan hari akhir karena mereka tidak mengimaninya. Pada ayat-ayat awal surat Al Qiyaamah Allah SWT kembali menguatkan dalil-dalil tentang hari kiamat dan memastikan bahwa hari kiamat pasti akan datang. Ayat yang dijelaskan pada surat ini disebutkan lebih lengkap untuk menggambarkan betapa dahsyatnya huru-hara yang terjad pada saat itu.

Hubungan lain yang akan kita temukan dari kedua surat ini adalah berkaitan dengan Al Qur’an. Pada surat Al Muddatstsir mengungkapkan bagaimana orang-orang kafir mendustakan Al Qur’an dan menganggapnya sebagai perkataan manusia biasa. Pada surat Al Qiyaamah menegaskan salahnya pendapat orang-orang kafir tersebut. Allah SWT menjamin kemurnian dan terpeliharanya Al Qur’an. Al Quran terpelihara dengan baik dalam ingatan Rasulullah SAW dan mengajarkan bacaannya. Bahkan hingga saat ini kita bisa membuktikan bahwa Al Quran merupakan kitab yang bisa dengan mudah dihafal. Ia menjadi kitab yang paling banyak dihafal oleh seluruh penduduk dunia. Tidak jarang kita menemukan pada usia yang sangat belia seorang anak mampu menamatkan hafalan hingga 30 juz Al Qur’an. Ini mengindikasikan bahwa betapa Allah telah memelihara kemurnian Al Qur’an dengan sangat baik hingga saat ini.

Pada 15 ayat awal pada surat Al Qiyaamah, Allah memberikan gambaran yang sangat jelas tentang sifat-sifat hari kiamat, kehebatanya, dan keadaan manusia pada hari itu.
1. Aku bersumpah demi hari kiamat,
2. Dan aku bersumpah dengan jiwa yang Amat menyesali (dirinya sendiri).
3. Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
4. Bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.
5. Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.
6. Ia berkata: "Bilakah hari kiamat itu?"
7. Maka apabila mata terbelalak (ketakutan),
8. Dan apabila bulan telah hilang cahayaNya,
9. Dan matahari dan bulan dikumpulkan,
10. Pada hari itu manusia berkata: "Ke mana tempat berlari?"
11. Sekali-kali tidak! tidak ada tempat berlindung!
12. Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.
13. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.
14. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri
15. Meskipun Dia mengemukakan alasan-alasannya.

Pada ayat (1) dan (2) Allah menggunakan dua makhluk-Nya untuk bersumpah yaitu ‘hari kiamat’ dan ‘jiwa yang menyesal’. Ibnu Katsir dan beberapa mufasir lain menjelaskan bahwa apabila Allah menggunakan makhluk-Nya untuk bersumpah pada suatau ayat maka ini menunjukkan keistimewaan dari makhluk tersebut yang membutuhkan perhatian dan penelaahan yang mendalam guna mengambil hikmah dari ayat tersebut. Pada ayat (1) Allah bersumpah dengan ‘hari kiamat’. Pada ayat ini mempertegas bahwa hari kiamat adalah janji Allah yang pasti akan terjadi. Oleh karena itu setiap manusia dituntut untuk mempersiapkan diri menghadapinya dengan beriman dan beramal sholeh. Selanjutnya pada ayat (2) Allah bersumpah dengan ‘jiwa yang menyesal’. Pada dasarnya setiap manusia memiliki karakter jiwa yang selalu merasa menyesal. Penyesalan ini terjadi bukan hanya ketika manusia melakukan keburukan tetapi juga saat mengerjakan amal sholeh. Jiwa akan terus merasa menyesal tatkala ia mengerjakan amal sholeh karena sesungguhnya ia bisa berbuat amal sholeh yang lebih baik dan lebih baik lagi. Bisa dibayangkan betapa besar penyesalan jiwa ketika manusia berbuat keburukan. Jiwa yang selalu menyesal merupakan fitrah jiwa yang harus difahami oleh setiap manusia. Pada ayat ini Allah SWT ingin membawa manusia untuk menyelami karakter jiwanya.

Terdapat dua unsur yang paling dominan dalam diri manusia, yaitu jasad dan ruh. Jasad merupakan unsur yang dapat dengan mudah dilihat sehingga secara umum manusia biasanya mampu dengan cepat memperlakukannya dengan baik untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasadnya tersebut. Tetapi beda halnya dengan unsur ruh yang tidak terlihat. Manusia biasanya melupakan aspek pemenuhan kebutuhan ruhiyahnya. Sehingga terkadang kurang seimbang. Kedua unsur baik jasad maupun ruh harus diperlakukan dengan proporsional dan seimbang. Jalaluddin Ar Rumy mengibaratkan jasad dan ruh dengan seseorang yang menunggang kuda. Jasad diibaratkan dengan kuda tunggangan sedangkan ruh adalah orang yang menungganginya. Kuda harus cukup kuat agar bisa berlari kencang mengikuti kehendak penunggangnya. Sang penunggang kuda juga harus cukup kuat dan tangkas agar bisa mengendalikan kudanya dengan baik pada jalur yang benar sesuai tujuannya. Ketika sang penunggang kuda tiba untuk menghadap Rajanya maka kuda hanya akan ditambatkan di luar istana dan yang masuk menemui sang Raja tentu adalah penunggang tersebut. Begitu pula ketika manusia hendak mengahdap Rabb-nya maka yang akan menghadap adalah ruhnya sedang jasad akan berakhir di liang lahat.
Selanjutnya pada ayat (3) dan (4) Allah berfirman
.3. Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
4. Bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.

Pada kedua ayat ini Allah SWT ingin menyampaikan kepada manusia bahwa kelak manusia akan ada hari kebangkitan. Untuk menghilangkan keraguan yang ada, Allah menggambarkan bagaimana kuasa-Nya yang mampu mengumpulkan tulang belulang yang telah hancur dan menyusunnya kembali dengan sempurna sebagaimana ketika Allah menciptakan manusia.  Secara khusus ayat (4) bisa diartikan ‘mampu menyamakan setiap jari manusia’. Seperti yang sudah ditemukan di dunia sains bahwa jari manusia (sidik jari) merupakan penanda yang sangat khas dan tidak akan pernah sama. Hal ini diakui sebagai keajaiban penciptaan manusia. Bila Allah SWT mampu menciptakan sidik jari berbeda untuk setiap manusia maka untuk menciptakan sidik jari yang sama bukanlah hal yang sulit. Begitu pula untuk membangkitkan kembali apa yang telah hancur dan menyusunnya kembali menjadi sesuatu yang sempurna bukanlah yang mustahil bagi Allah SWT.

Pada Surat Al Qiyaamah ayat berikutnya, yaitu (5) dan (6) digambarkan bagaimana sikap manusia mengahadapi peringatan tersebut.
5. Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.
6. Ia berkata: "Bilakah hari kiamat itu?"
Pada ayat (5) Allah menggambarkan bagaimana manusia yang selalu memiliki sifat keburukan, yang tetap bertahan, tenang, dan bahkan bangga dengan kemaksiatan yang ia lakukan. Sifat seperti ini pada dasarnya merupakan potensi yang ada pada semua manusia yang harus diwaspadai.  Merasa tenang dengan kemaksiatan yang ia lakukan padahal ia sangat sadar dengan kemaksiatan itu. 

Untuk menggambarkan hal ini pada surat Al ‘Aadiyaat : 6 - 8 Allah SWT berfirman :
6. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya,
7. Dan Sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,
8. Dan Sesungguhnya Dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.
Ayat di atas menjelaskan karakter keingkaran yang dimiliki manusia walaupun mereka sadar sesadar-sadarnya terhadap maksiat yang mereka kerjakan. Pada ayat (8) Surat Al ’Aadiyaat di atas Allah menyampaikan bahwa sifat cinta yang berlebihan pada dunia merupakan penyebab semakin kuatnya karakter kingkaran pada Allah SWT.

Sikap manusia yang sangat tenang dan bangga dengan maksiat yang ia perbuat semakin menjadi-jadi bahkan pada surat Al Qiyaamah ayat (6) bagaimana batas keingkaran manusia yang seakan menatang Allah dengan menagih kapan terjadinya hari kiamat. Bila kita melihat kondisi masyarakat kita dewasa ini maka hal yang sudah dijelaskan Allah pada ayat ini akan banyak dapat kita temukan. Kemaksiatan bukan menjadi barang yang tabu bahkan sekarang kampanye akan kemaksiatan justru sangat kuat dilakukan. Kampanye tersebut sangat subur terutama melalui media massa baik cetak maupun elektronik. Kampanye seperti ini seakan menantang Allah SWT akan hadirnya hari kiamat sebagaimana gambaran dalam surat Al Qiyaamah ayat (6) di atas.

Tantangan orang-orang yang selalu berbuat ingkar pada Allah untuk mendatangkan hari kiamat terjawab pada ayat berikutnya :
7. Maka apabila mata terbelalak (ketakutan),
8. Dan apabila bulan telah hilang cahayaNya,
9. Dan matahari dan bulan dikumpulkan,
10. Pada hari itu manusia berkata: "Ke mana tempat berlari?"
11. Sekali-kali tidak! tidak ada tempat berlindung!

Pada rangkaian ayat ini Allah memberikan gambaran akan dahsyatnya hari kehancuran (yaumul faza’) yaitu dimana semua makhluk yang ada akan dihancurkan dan dimatikan tanpa terkecuali. Begitu hebatnya sehingga pada saat itu tidak ada yang peduli pada yang lain kecuali kepada keselamatannya sendiri.
Pada Surat Abasa : 33 – 36 Allah berfirman :
33. Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua),
34. Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,
35. Dari ibu dan bapaknya,
36. Dari istri dan anak-anaknya.

Senada dengan Surat Al Qiyaamah ayat (11), pada surat Al Ma’aarij : 11-15 Allah menegaskan bahwa tidak akan ada yang dapat menolong mereka ketika hari kiamat
11. Sedang mereka saling memandang. orang kafir ingin kalau Sekiranya Dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya,
12. Dan isterinya dan saudaranya,
13. Dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia).
14. Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.
15. Sekali-kali tidak dapat, Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak,

Setiap kita akan kembali pada Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang sudah kita lakukan selama hidup di dunia.
Dalam lanjutan surat Al Qiyaamah : 12-15 Allah berfirman
12. Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.
13. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.
14. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri
15. Meskipun Dia mengemukakan alasan-alasannya.

Setiap amal yang dilakukan di dunia akan dipertanggungjawabkan. Tak akan ada yang mampu ditutupi. Tidak akan ada alasan yang bisa membantu manusia karena justru seluruh anggota tubuh yang akan bersaksi atas apa yang telah dikerjakannya.  
Allah SWT berfirman dalam surat An Nur : 24

24. Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. 
Semua anggota tubuh akan menjadi saksi dalam mahkamah pengadilan Allah dengan sejujur-jujurnya dan tidak seorangpun bisa berbohong untuk menutupi keburukannya.

Wallahu’alam bishowab

Disusun berdasarkan taujih Ust. Asep Nurhalim, Lc.  pada Kajian Rabuan
Tanggal 11 Mei 2011, pkl 07.00-07.45, di Ruang Aula Masjid Al Hurriyyah IPB
PSDM HIMMPAS IPB    

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar